One Battle After Another (2025) - Perlawanan Kaum Blasteran
"...yang siap membara kapan saja menuai suatu perang..."
Imigran, satu kata yang bisa termaknai sebagai kalangan yang berpindah dari satu wilayah ke wilayah lainnya, demi memenuhi harapannya menjadi orang-orang yang bakal berkehidupan lebih baik serta lebih merdeka.
Bukan hal yang mudah bagi wilayah yang menjadi tujuan para imigran, untuk menerima kedatangan orang-orang yang berbeda asal usul leluhur serta nilai budaya yang menyertakan mereka.
Alih-alih bisa hidup berdampingan, warga asli maupun mereka yang lebih dahulu lama tinggal di wilayah tujuan para imigran, bakal memperlakukan para pendatang baru tersebut sebagai pesaing.
Lalu, apabila kebijakan dan penegakan hukum bagi warga asli serta pendatang berlaku timpang, maka wilayah tersebut bakal memendam api dalam sekam yang siap membara kapan saja menuai suatu perang.
Suatu ketika, di Amerika Serikat, negara adikuasa yang giat berkampanye tentang keadilan, demokrasi dan hak asasi manusia, maka dalam kenyataannya penanganan terhadap para imigran, berlaku timpang. Satu aksi kebijakan penguasa yang tak sepenuhnya memenuhi ketiga hal yang menjadi euforia bagi dunia tersebut.
Aksi nyata berupa ketimpangan kebijakan serta penegakan hukum yang rasialis bagi kalangan imigran di Amerika Serikat khususnya di wilayah tersebut pun menuai reaksi perlawanan yang dipicu oleh kelompok revolusioner bernama French75.
Tak main-main, reaksi kelompok ini pun dalam tingkatan yang tak hanya orasi demonstrasi jalanan belaka, namun berupa gerakan bawah tanah hingga aksi bersenjata, melawan aparat penegak hukum, lembaga kepolisian negara.
"...yang memiliki visi membentuk hegemoni ras..."
Adalah Ghetto Pat yang berkulit putih dan Perfidia yang berkulit hitam mereka sejoli pasangan muda yang tengah dimabuk asmara, saling bergairah justru lantaran menebar kobaran aksi-aksi revolusioner di beberapa wilayah tempat para imigran berdatangan di Amerika Serikat.
Keduanya pun terpicu gejolak saling mencinta bukan dari lingkungan yang romantis nan permai menentramkan, melainkan justru dari suasana perlawanan bersenjata dan aksi-aksi pengrusakan fasilitas publik, demi untuk menentang kebijakan dan penegakan hukum yang pilih kasih, rasialis terhadap para pendatang, imigran.
Atas dampak meluas gerakan revolusioner kelompok French75, yang tak hanya mengganggu keamanan pun ketertiban namun juga kenyamanan bagi politisi Amerika Serikat dalam mempertahankan kekuasaan kelompok politik mereka, maka kedua sejoli pentolan French75 itu pun berhadapan dengan Kolonel Lockjaw, sosok ironis yang petinggi aparat keamanan di wilayah kelompok French75 mengobarkan aksi-aksi revolusioner.
Lockjaw yang fanatik akan dominansi ras kulit putih dan sangat percaya dengan keaslian darah Amerika Serikatnya pun terpilih untuk memburu, menumpas kelompok French75, termasuk dua sejoli Ghetto Pat-Perfidia bahkan keturunannya, oleh kelompok politik rasialis yang memiliki visi membentuk hegemoni ras kulit putih atas negara adikuasa, Amerika Serikat.
***
"...yang sunyi namun sistematis..."
Ternyata, tak mudah untuk menumpas suatu gerakan revolusioner bawah tanah yang telah mengakar kuat karena menyentuh hak berkehidupan diatas suatu wilayah yang dalam sejarahnya menjadi adidaya lantaran sumbangsih para pendatang.
Suatu kenyataan sejarah yang termaknai sebagai keharusan untuk bertahan pun melawan, apabila hak-hak sebagai imigran yang multi ras diperlakukan secara tak berimbang, hingga tertindas, tertekan.
Hingga belasan tahun kemudian, sang Kolonel yang ironisnya juga sangat bergairah apabila bersua dengan wanita kulit hitam ini pun gagal memburu musuh bebuyutannya, yakni; para pentolan French75 yang masih eksis melalui gerakan bawah tanah yang sunyi namun sistematis.
Termasuk, buruan Kolonel Lockjaw adalah sosok pria paruh baya bernama Bob Ferguson yang tak lain adalah nama samaran Ghetto Pat, yang telah mencoba untuk meninggalkan aktifitas haru biru aksi-aksi revolusioner bawah tanah, mencoba untuk berdamai dengan masa lalunya bersama seorang putri remaja yang amat disayanginya, amat cantik rupawan, buah cinta antara ras kulit putih dan kulit hitam.
***
"...bukan sekedar fiksi, namun..."
Tak berlebihan, One Battle After Another (2025) menjadi satu karya sinema sineas Amerika Serikat yang jeli dalam mengungkap hal mendasar yang belum sepenuhnya tuntas sebagai masalah besar bagi Amerika Serikat, yakni kesetaraan ras, yang dalam aksi kebijakan pun penegakan hukum adalah penanganan imigran yang berimbang.
Aksi-aksi revolusioner sebagai wujud gerakan bawah tanah yang melawan penindasan terhadap kalangan imigran, yang tergambar dalam film ini pun bukan sekedar fiksi, namun bisa jadi suatu ungkapan yang menyiratkan fakta.
Suatu fakta yang bisa mengemuka, apabila pemimpin negara adikuasa, Amerika Serikat, memilih suatu kebijakan yang tak berpihak pada kalangan imigran di negara tersebut.
Tuturan dalam One Battle After Another (2025) terkemas sebagai suatu drama thriller yang tertata intens mulai alur kisah dengan ketegangan yang memuncak, tata musik yang tak sekedar mengiringi namun lebih menjadi ruh setiap aksi, adegan-adegan yang manusiawi tak berlebihan khususnya atas kontribusi kualitas trio aktor watak, hingga sentuhan humor yang absurd seperti bagaimana Bob Ferguson lupa kata sandi gerakan revolusioner bawah tanah lantaran sudah belasan tahun pensiun dini, menghindar hiruk pikuk dunia politik praktis.
***
"...mewakili gambaran sosok presiden Amerika Serikat saat ini..."
Jelas, trio aktor watak yang mendukung One Battle After Another (2025) sebagai tontonan bagus nan berkelas adalah;
- Leonardo DiCaprio dengan ciri khas kualitas peran saat dilanda kepanikan sekaligus kikuk lantaran kudu beradaptasi dengan perilaku budaya generasi Z beserta gawai elektronik yang selalu tersandang pada mereka. Peran DiCaprio dalam film ini mengingatkan aksinya dalam The Wolf of Wallstreet (2013) dan Don't Look Up (2021). Hanya saja kali ini DiCaprio berperan sebagai seorang ayahanda yang kudu hadir saat putrinya membutuhkannya.
- Sean Penn berhasil menggambarkan sosok ironis, dengan bahasa tubuh, mimik wajah serta tata rambut yang menjengkelkan. Antagonis habis. Adapun guratan wajah serta tata rambut Kolonel Lockjaw yang diperankannya, bisa menyiratkan, mewakili gambaran sosok presiden Amerika Serikat saat ini. Ibaratnya, guratan dan mimik wajah pun gaya rambut yang menyebalkan bagi pihak-pihak yang tak diuntungkan atas kebijakan bagi kalangan imigran di Amerika Serikat.
- Benicio del Toro, aktor asal Meksiko yang seringkali berperan antagonis sejak Licence to Kill (1989) kali ini ia berhasil berperan protagonis, yang menggambarkan sosok sahabat yang setia, informal leader yang kharismatik, memiliki banyak kolega dalam menjalankan kegiatan bawah tanah bertujuan revolusi atas Amerika Serikat.
***
"...topik yang senantiasa hangat..."
Tak berlebihan pula, One Battle After Another (2025) besutan Paul Thomas Anderson, sutradara yang spesialis membuahkan karya sinema beralur kisah surealis yang intens, seperti There Will be Blood (2007), The Master (2013), Licorice Pizza (2021), bakal menuai banyak penghargaan kelak dalam ajang festival film internasional bergengsi.
Tentu, antara lain menjadi salah satu kandidat peraih Oscar untuk kategori tertentu, yang bisa jadi adalah film terbaik 2025, lantaran kesesuaiannya dalam mengangkat suatu topik yang senantiasa hangat di Amerika Serikat, yakni penanganan imigran serta kesetaraan ras, dalam bentuk karya seni sinema.
Selebihnya, ungkapan: "Merdeka adalah terbebas dari ketakutan." sebagai satu pesan moral dalam One Battle After Another (2025) menjadi suatu tatanan kalimat yang bakal melekat sepanjang masa, yang oleh karenanya, demi meraih suatu kemerdekaan itu sendiri, maka satu pertempuran setelah pertempuran yang lainnya pun bakal selalu terjadi.
***

Komentar
Posting Komentar