Malem Jum’at Bareng Angin dan Hujan
“...mitos bahwa angin dan hujan pada saat Imlek tiba adalah karena...”
Sempat beberapa hari ini, sejak saya masih belia belum paham apa itu jatuh cinta, hingga hati terjatuh pada satu sosok pilihan tercinta, maka saya kepikiran mengapa dari tahun ke tahun, bahwasanya tahun baru Cina, Imlek, selalu beriring dengan angin kencang dan hujan deras.
Waktu masih kecil dulu, saya pun pernah mendengar mitos bahwa angin dan hujan pada saat Imlek tiba adalah karena ulah gerak sang naga di alam semesta yang tak kasat mata, menuju penghujung tahun, sekaligus membuka awal tahun yang penuh harap.
Terus, pas beranjak remaja, lalu sekolah memilih jurusan IPA, ditambah masuk perguruan tinggi memilih FMIPA yang plesetannya adalah; Forum Membahas Ilmu Paling Aneh, saya pun tertarik untuk memaknai fenomena angin kencang dan hujan deras pas Imlek tiba, melalui pendekatan ilmiah. Pendekatan yang sok-sok sains gitu.
Sama, jelek-jelek dan rada-rada slang gini, saya juga seneng mengaji juga memaknai Kalam-Kalam Ilahi, yang tergurat dalam kitab suci, khususnya yang termaknai sebagai inspirasi sains dan teknologi.
“Demi (angin) yang menerbangkan debu, dan awan yang mengandung (hujan), dan (kapal-kapal) yang berlayar dengan mudah, dan (malaikat-malaikat) yang membagi-bagi urusan." adalah petikan Kalam-Kalam Ilahiah dari Qur’an Surah Az-Zariyat (Angin yang menerbangkan), ayat 1-4, menginspirasi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang menggelayut dalam alam pikiran saya, perihal angin kencang dan hujan deras saat Imlek tiba.
***
“...Woooossshh...”
Adalah pengaruh siklus angin Muson barat.
Siklus alami angin, ketika sisi selatan bumi yang pada kisaran bulan Desember hingga Februari masih lebih menghadap ke matahari. Sehingga, benua terbesar di sisi selatan bumi, yakni; Australia tengah menghadapi musim panas. Sementara benua-benua sisi utara seperti Eropa, Amerika utara, termasuk Asia, mengalami musim dingin.
Pas kisaran bulan-bulan tersebut, dataran Australia lebih menghangat, sehingga tekanan udaranya lebih rendah dibanding sisi utara, macam benua Asia termasuk pulau-pulau di Asia Tenggara seperti Indonesia.
Angin pun berhembus dari sisi utara menuju ke arah selatan, lalu berbelok ke tenggara karena bentuk geografi kepulauan di kawasan Asia tenggara, khususnya Indonesia. Woooossshh...
Lalu, benua Asia sisi selatan, termasuk Asia Tenggara pas tahun baru Cina, Imlek, angin berhembus lebih kencang dan hujan menjadi sering terjadi.
Karena, pas titik puncak perpindahan udara dari sisi utara ke selatan, serta puncak kelembapan tertinggi setelah hembusan angin dari utara membawa kondensat uap air lautan di sisi Asia selatan, sehingga sekumpulan awan raksasa nan gelap keabu-abuan di angkasa turun menjadi hujan di wilayah Asia tenggara, termasuk Indonesia.
***
“...bersanding mendunia dengan metode hitungan tahun berdasarkan...”
Perihal orang-orang Cina bisa memiliki metode perhitungan yang unik dalam menentukan puncak perpindahan angin dan titik curah tertinggi hujan, yang lalu menjadi pembakuan/standarisasi sebagai awal pergantian tahun baru mereka yang bernama Imlek, maka itu lebih sebagai hasil perpaduan ilmu pengetahuan menghitung waktu perubahan cuaca dengan kearifan lokal mereka, yang berlaku lebih dari 2570-an tahun lalu.
Satu hal yang patut dihargai, karena bisa menjadi satu ukuran bagi kita untuk waspada apabila bertemu dengan hari H Imlek, maka sedialah payung, jas hujan dan siap siagalah menghadapi angin kencang.
Menjadi unik, karena fenomena statis alam menjadi hitungan pergantian tahun, bersanding mendunia dengan metode hitungan tahun berdasarkan putaran bumi mengelilingi Matahari yang disebut sebagai Masehi/Syamsiah dan putaran bulan terhadap bumi yang disebut kalender Lunar/Qomariah.
Dari sini, maka saling menghormati budaya yang dianut oleh suatu suku bangsa menjadi perlu, karena bisa menjadi media untuk saling memperkaya khazanah ilmu pengetahuan. Sejalan ajakan bagi manusia agar senantiasa memaknai Kalam Ilahiah bahwasanya, terciptanya manusia berbagai suku bangsa untuk saling mengenal, satu koda perilaku sebagaimana tergurat dalam Al Hujurat.
Keberadaan angin, juga hujan adalah siklus alam yang ajaib nan jenius, karena menjaga keseimbangan alam lingkungan dalam bumi. Lalu, memaknai kehadiran angin kencang dan hujan deras pas Imlek, sejalan pula dengan kehadiran para malaikat yang menebar segala urusan bagi manusia.
Doa terbaik saat Imlek tiba bagi semua manusia, tak hanya bagi mereka yang bersuku bangsa Cina, adalah upaya pemaknaan Kalam Ilahiah secara universal. Sebuah pemaknaan yang alamiah, menebar budi pekerti beserta setulusnya cinta.
***

Komentar
Posting Komentar