Komedi Ironis Dalam Perang

...yang menyiratkan pesan anti perang...”

Full Metal Jacket mengambil istilah Korps Marinir Amerika Serikat yang bermakna selongsong logam wadah serbuk mesiu dan proyektil peluru.

Film besutan Stanley Kubrick ini bertutur tentang haru biru dua prajurit Marinir yang bertugas sebagai pewarta militer yang meliput kobaran perang Vietnam pada tahun 1966. Satu kurun waktu pas seru-serunya perang Vietnam panas berkobar.

Stanley Kubrick, seorang sutradara yang pada tahun 1968, tepat setahun sebelum misi Apollo 11 menuju bulan, pernah menghasilkan karya imajinasi perjalanan manusia ke luar angkasa, melanglang menembus beberapa dimensi langit pada masa depan, yakni; 2001: A Space Odyssey.

Melalui sentuhan Stanley Kubrick, maka Full Metal Jacket telah menjadi suatu film laga perang, yang menyiratkan pesan anti perang, dengan cara bertutur tentang kenyataan pahit yang harus dihadapi oleh serdadu-serdadu muda Amerika Serikat, selama menjalankan tugas negara mereka di neraka hijau Vietnam.

***

 

“...belum siap untuk menyamakan karakter mereka dengan para ayah mereka...”

Juga, sepanjang lebih dari 2 jam dalam karya sinema buatan tahun 1987 ini terselip limpahan humor nan ironis dan kelam. Seperti, pergulatan batin prajurit bernama Leonard ‘Pyle’, yang sama sekali tak punya bakat menjadi serdadu yang siap fisik dan mental untuk berlaga di medan pertempuran, hingga ia menembak pelatihnya sendiri.

‘Pyle’ satu julukan yang mengambil nama dari sosok Gomer Pyle, seorang pria naif dalam serial televisi Amerika Serikat awal tahun 1960-an itu telah memberi gambaran ironis, betapa sebenarnya generasi muda Amerika Serikat tahun 1960-an, sama sekali belum siap untuk menyamakan karakter mereka dengan para ayah mereka yang memenangkan perang Korea dan para kakek mereka yang memenangkan Perang Dunia kedua, termasuk kakek buyut mereka yang memenangkan Perang Dunia pertama.

Prajurit Joker sedang menyemangati Prajurit 'Pyle' yang tertekan dan tak berbakat menjalani pendidikan militer

Sepanjang tahun 1960-an, generasi muda Amerika Serikat adalah kelahiran era baby boomers, generasi yang sebenarnya sangat mapan, penggila musik, penikmat daun surga bernama mariyuana dan pecinta perdamaian, yang oleh karenanya dikenal sebagai generasi bunga.

***

 

“...tak pernah siap untuk terjun dalam palagan Vietnam...”

Adalagi guratan ironis yang tampak sekilas namun jelas, menunjukkan seorang prajurit Marinir Amerika Serikat sedang mengambil posisi siaga waspada kala dia dan teman-temannya hendak menyerbu sekelompok pasukan Vietkong yang bersembunyi dibalik gedung-gedung bertingkat yang tengah porak poranda, karena perang kota.

Menjadi aneh, karena sang prajurit tersebut memegang senapan jenis M-16 namun tanpa magazin isi amunisi. Senjata yang dipegangnya erat ternyata kosong belaka.

Lantas, muncul pertanyaan apakah adegan seorang prajurit dengan senjata kosong tersebut kesalahan bagian penyunting film? Akankah garapan seorang sutradara sekaliber Stanley Kubrick terdapat kesalahan remeh seperti itu?

Seorang prajurit Marinir Amerika Serikat tergambar sedang memegang senapan tanpa magazin amunisi

Kiranya, gambaran serdadu memegang senapan kosong yang demikian adalah potret sekilas yang menggambarkan betapa serdadu-serdadu Amerika Serikat tak pernah siap untuk terjun dalam palagan Vietnam.

Ibarat mereka hendak berperang, namun tak pernah menyediakan amunisi yang diperlukan. Suatu amunisi berupa tekad mengapa mereka berangkat menuju medan perang.

Akibatnya, mereka, sang raksasa Amerika Serikat harus mengakui perjuangan rakyat Vietnam utara. Saigon pun jatuh pada tahun 1975, para serdadu Amerika Serikat meninggalkan Vienam dengan kekalahan yang memalukan.

***

 

“...ditutup oleh kegelapan, hitam pekat...”

Apabila Platoon (1986) besutan Oliver Stone, sutradara yang juga veteran perang Vietnam, yang berhasil meraih piala Oscar untuk kategori film terbaik 1986 lebih berkisah tentang kobaran perang Vietnam di hutan belantara bersanding lantunan melodi Adagio String yang mengiris-iris lubuk hati, maka Full Metal Jacket lebih menyorot kengerian palagan dalam kota, semasa perang Vietnam.

Bedanya lagi, karya Stanley Kubrick tentang perang Vietnam ini lebih unik dan berani dalam mengkritisi pemirsa, khususnya publik Amerika Serikat, perihal memaknai hakikat perang.

Kritikan itu terselip halus sebagai dilema dalam bentuk ungkapan dalam helm hijau tentara bertuliskan “Born to Kill”, terlahir untuk membunuh, yang menunjukkan tekad berperang, berdekatan dengan lambang perlucutan nuklir sebagai simbol Perdamaian, yang keduanya dikenakan oleh seorang prajurit peliput perang, berjuluk ‘Joker’, si Badut.

Suatu metafora dilema nan ironis, pilihan antara saling bunuh dengan hidup saling berdampingan, kudu dilakoni oleh sosok yang punya karakter si badut.

Badut, sosok metafora suasana dilema yang harus dihadapi oleh serdadu Amerika Serikat dalam perang Vietnam, suasana komedi yang sekaligus muram ironis.


Poster Full Metal Jacket (1987). Sumber: www.rottentomatoes.com

Sejarah pun mencatat bahwa dilema yang dihadapi banyak anak muda Amerika Serikat bertaruh nyawa selama kobaran perang Vietnam tahun 1963-1975, akhirnya membawa negara adikuasa itu menjadi pecundang perang.

Lalu, kisah ironis tentang perang Vietnam ini ditutup oleh kegelapan, hitam pekat, beriring tembang The Rolling StonesPaint it Black.

Tembang tentang kehilangan dan duka cita.


Satu adegan Full Metal Jacket (1987) jelang akhir, menggambarkan langkah-langkah menuju perjalanan gelap nan muram

***


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Alam Semesta Dalam KeAgunganNya

Rhesus yang Pembeda

Missing Link Terjadi di Bulan(?)