Jum'at Bersama Yusuf
Surah Yusuf tergurat sebagai Kalam Ilahi dalam kitab suci Al Quran, sebagai surah keduabelas setelah surah Hud.
Apabila dalam surah Hud lebih bertutur tentang perjalanan hidup para nabi, yakni; nabi Nuh Alaihissalam, nabi Hud Alaihissalam, nabi Shaleh Alaihissalam, nabi Ibrahim Alaihissalam, nabi Luth Alaihissalam, nabi Syuaib Alaihissalam, nabi Musa Alaihissalam, beliau-beliau para nabi yang memberi peringatan kepada kaumnya, yang sebagian kaum itu menjadi binasa karena mengingkari ajakan para nabi agar mengimani keberadaan Tuhan Yang Maha Esa, maka dalam surah Yusuf khusus bertutur tentang perjalanan hidup nabi Yusuf Alaihissalam.
Menjadi surah yang khusus berkisah tentang satu sosok pria salih, yakni nabi Yusuf Alaihissalam, tanpa adanya lintasan Kalam Ilahiah berupa suatu ayat maupun ayat-ayat yang tak terkait langsung, namun tetap relevan karena berisi tentang firman-firman Tuhan yang menjadi pengingat bagi orang-orang beriman.
Suatu lintasan ayat-ayat yang sering menjadi jeda suatu kisah-kisah tentang nabi pada suatu surah, dalam Al Quran, baik yang bernama surah tentang nabi yang dikisahkan maupun nama surah yang tak khusus bernama nabi, namun memiliki kaitan dengan perjalanan hidup nabi dan rasul dalam menebar keteladanan.
...memberi kabar bohong kepada sang ayahanda...
Berawal Mimpi 11 Benda Angkasa Bersujud
Surah Yusuf sangatlah runtut dan detail, bertutur tentang perjalanan hidup nabi Yusuf Alaihissalam dalam tatanan wahyu Ilahi yang relatif mudah dimaknai dan hampir tanpa makna yang bersifat mustasyabih, yakni Kalam Ilahiah yang memerlukan permenungan mendalam, memerlukan pentakwilan guna memahami makna yang tersirat.
Mulai dari pengenalan sosok pria muda salih bernama Yusuf putra nabi Ya'qub Alaihissalam, yang menjelaskan pula bahwa nabi Yusuf Alaihissalam adalah cucu dari nabi Ishaq Alaihissalam, yang dengan demikian adalah cucu buyut dari nabi Ibrahim Alaihissalam, dari garis keturunan wanita salih bernama Siti Sarah, istri pertama nabi Ibrahim Alaihissalam.
Kemudian, kisah berlanjut dengan terzaliminya nabi Yusuf Alaihissalam oleh saudara-saudara kandung mereka, berupa tindakan dimasukkannya nabi Yusuf Alaihissalam ke dalam sebuah sumur di area tempat mereka bermain.
Tadinya, sang ayahanda, nabi Ya'qub Alaihissalam keberatan memberi ijin putra-putra beliau yang hendak mengajak Yusuf kecil bermain, karena nabi Ya'qub Alaihissalam khawatir Yusuf kecil dimangsa serigala.
Kekhawatiran sang ayah pun terjadi. Kakak-kakak nabi Yusuf Alahissalam, melaporkan kejadian mengerikan bahwa Yusuf kecil telah dimangsa seekor serigala, dengan menunjukkan selembar kain bersimbah darah, yang bukanlah darah nabi Yusuf Alaihissalam.
Rupanya mereka, para kakak yang menzalimi nabi Yusuf Alaihissalam memberi kabar bohong kepada sang ayahanda, sementara sebenarnya nabi Yusuf Alaihissalam dimasukkan ke dalam sebuah sumur di suatu kawasan sunyi.
Rupanya, para kakak nabi Yusuf Alaihissalam cemburu atas tindakan nabi Ya'qub Alaihissalam yang dinilai lebih menyayangi dua putra beliau yakni; nabi Yusuf Alaihissalam dan seorang anak salih bernama Bunyamin.
Tentu sebagai seorang ayah, nabi Ya'qub Alaihissalam sangatlah bersedih, mendengar kabar bahwa putra kesayangan beliau mengalami celaka.
...sangat terkesima oleh keelokan wajah nan rupawan...
Rupawan Wajah dan Hati
Sementara itu, di kejauhan sana, di sumur di tengah kesunyian, nabi Yusuf Alaihissalam ditemukan oleh pedagang yang lalu menjualnya dengan harga murah di pasar budak, di negeri Mesir yang dipimpin oleh seorang raja yang terkenal disebut Al Azis.
Waktu itu Mesir masih belum dipimpin oleh raja-raja trah Firaun yang dikenal lebih mementingkan kehidupan duniawi pada masa kenabian Musa Alaihissalam.
Pesona dan ketampanan nabi Yusuf Alaihissalam memikat seorang wanita, yang adalah istri seorang petinggi negeri Mesir saat itu. Dibelilah nabi Yusuf Alaihissalam sebagai budak di kediaman petinggi Mesir itu.
Bertahun kemudian, nabi Yusuf Alaihissalam tumbuh menjadi pemuda dengan anugerah ketampanan yang luar biasa, terlebih adalah karunia sebagai pria salih.
Suatu ketika sang istri petinggi Mesir itu, yang bernama Zulaikha, bertindak khilaf, tiada kuasa menahan nafsunya demi melihat dan berdekatan dengan budaknya, sosok pria rupawan penuh kharisma lagi terpercaya, yakni nabi Yusuf Alaihissalam.
Zulaikha tiada kuasa menahan hasrat, mengejar nabi Yusuf Alaihissalam, agar mau melayani birahinya, namun pria salih itu tidak berkenan. Hingga, bagian belakang baju nabi Yusuf Alaihissalam robek oleh tarikan tangan Zulaikha yang lagi horny setengah mati.
Justru, letak robek di bagian belakang baju yang dikenakan oleh nabi Yusuf Alaihissalam, menjadi petunjuk bahwa beliau semata hendak menghindari perbuatan tercela, melayani hasrat Zulaikha.
Sang suami, petinggi Mesir itu pun memberi kesempatan kepada sang istri, Zulaikha, untuk turut menentukan nasib nabi Yusuf Alaihissalam.
Lalu, oleh Zulaikha, dikumpulkan wanita-wanita negeri Mesir, para wanita member gang sosialita tajir mlintir se-Mesir, demi melihat wajah sang nabi Yusuf Alaihissalam.
Tiada nyana, wanita-wanita teman Zulaikha itu sangat terkesima oleh keelokan wajah nan rupawan nabi Yusuf Alaihissalam. Bahkan, tiada sengaja mereka menyayat jari jemari mereka sendiri, dengan pisau untuk mengiris hidangan, yang digenggam oleh mereka.
Mungkin saking gemesnya sambil berkata-kata dalam hati; "Duh, pria ini pasti bolak-balik pas disuruh liwat jalan putar balik. Gantengnya kelewataann...."
Sring! Pisau buat iris makanan pun menyayat jemari wanita-wanita Mesir itu, kegemesan sambil binar mata membulat seolah hendak menelan sang pria yang lewat di hadapan mereka, bulat-bulat.
Jalan hidup seringkali tiada terduga.
Fisik Terpenjara Nurani Bertakwa
"Tetap engkau Yusuf harus masuk penjara karena telah berbuat tak menyenangkan!" Begitu titah sang petinggi Mesir itu, yang suami Zulaikha.
Keputusan yang tak adil sebenarnya bagi nabi Yusuf Alaihissalam. Tak terbukti melakukan kesalahan, namun tetap harus dipenjara, justru karena karunia rupawan dan kesalihan.
Betapa sebuah penzaliman, sebagai cobaan Ilahi, demi menguji kesabaran seorang nabi. Bertahun-tahun nabi Yusuf Alaihissalam merasakan dinginnya sel tahanan, hingga ada dua orang tahanan yang bertanya tentang arti mimpi-mimpi mereka.
Nabi Yusuf Alaihissalam pun memberitahu kepada kedua orang itu tentang makna mimpi mereka. Satu orang akan dihukum mati. Sementara satu orang lagi bakal bebas dan menjadi pelayan raja Mesir, Al Azis.
Tepat semua takwil mimpi nabi Yusuf Alaihissalam terhadap kedua orang itu menjadi kenyataan. Hanya saja, satu orang yang menjadi pelayan istana, terlupakan perihal kebenaran takwil mimpi sang nabi, saat pernah satu ruangan dalam penjara.
Jalan hidup seringkali tiada terduga. Bertahun kemudian, sang Al Azis, raja Mesir, mempunyai mimpi yang rumit dan bertanya kepada pelayan istana, siapa orang yang mampu menerjemahkan makna mimpi sang raja.
Sontak, pria pelayan sang raja tersebut teringat, long term memorinya bagai tersengat. Diceritakannya kepada sang raja, bahwa ada pria baik-baik yang masih mendekam di penjara, yang pernah dengan tepat menakwil mimpinya, bertahun-tahun yang lalu.
Sang Al Aziz pun menyetujui untuk dipertemukan dengan nabi Yusuf Alaihissalam yang masih berstatus terpidana, penghuni penjara.
Dengan cermat dan detail, nabi Yusuf Alaihissalam menyampaikan arti mimpi sang Al Aziz, berupa kebijakan dan tindakan nyata untuk menangani ancaman gagal panen dan memakmurkan rakyat Mesir. Bertahun kemudian, sekali lagi takwil mimpi nabi Yusuf Alaihissalam benar adanya.
Sang Al Aziz, atas keberhasilannya membebaskan rakyat Mesir dari ancaman kesulitan pangan berkepanjangan pun lalu membebaskan nabi Yusuf Alaihissalam dari penjara. Bahkan beliau diangkat menjadi penasehat strategis istana kerajaan Mesir.
Pernah suatu waktu, sang petinggi Mesir dan istrinya, Zulaikha, bertemu dengan nabi Yusuf Alaihissalam. Mereka berdua semakin paham dan yakin bahwa nabi Yusuf Alaihissalam adalah sosok mulia, bersabar menjalani ujian kehidupan dan senantiasa bertakwa pada Tuhan Yang Maha Esa. Suatu kisah perjalanan hidup yang menjadi teladan bagi Zulaikha, sang suami.
Termasuk, wanita-wanita Mesir yang dulu pernah terkesima atas pesona rupawan sang nabi. Rupanya, ketampanan nabi Yusuf Alaihissalam bukan sekedar pada wajah melainkan pada hati juga perilaku. Tipikal sosok yang berserah diri, sosok muslim.
...untuk menguji hingga sejauh mana terdapat perubahan sikap...
Proses Penyadaran Perbuatan Khilaf
Masa demi masa, kekuatan Ilahi ganti membimbing keluarga nabi Yusuf Alaihissalam, yakni saudara-saudara beliau untuk bertandang ke Mesir.
Kali ini, tujuan mereka adalah meminta kebijakan raja Mesir guna memberi bantuan pangan pada satu wilayah yang berjauhan dari Mesir, yang mengalami gagal panen.
Di istana kerajaan Mesir, nabi Yusuf Alaihissalam menemui saudara-saudara kandung beliau, yang tak menyadari bahwa sosok pria petinggi istana Mesir itu adalah saudara mereka yang hilang.
Pada kesempatan itu, nabi Yusuf Alaihissalam berkenan memberi bantuan bahan pangan, gandum, dengan syarat agar saudaranya yang bernama Bunyamin dibawa serta bila mereka kembali lagi ke Mesir.
Mendengar syarat yang demikian, awalnya nabi Ya'qub Alaihissalam keberatan, tak rela kehilangan putra kesayangan untuk kedua kalinya, setelah Yusuf kecil menghilang bertahun-tahun lalu akibat ulah kakak-kakak Yusuf yang lalai.
Namun, ketika mereka menemukan perlengkapan perjalanan yang dibawa selama perjalanan ke negeri Mesir, maka mereka pun bertekad bulat untuk kembali lagi ke Mesir, meminta bantuan pangan serta membawa Bunyamin sebagai syarat yang ditetapkan oleh nabi Yusuf Alaihissalam.
Setelah nabi Ya'qub Alaihissalam setuju dengan terlebih dahulu meminta putra-putra beliau agar berjanji dihadapan Tuhan, bakal tidak menzalimi Bunyamin, maka perjalanan menuju Mesir untuk kedua kalinya pun dilakukan oleh mereka lagi.
Kali ini, nabi Yusuf Alaihissalam berjumpa dengan saudara beliau yang salih, Bunyamin, setelah sekian purnama tiada pernah bersua. Hanya kepada Bunyamin, saat itu nabi Yusuf Alaihissalam membuka rahasia siapa beliau sebenarnya.
Bunyamin pun tampak amat bahagia demi bertemu nabi Yusuf Alaihissalam, dalam keadaan hidup dan sehat serta mulia.
Lalu, kepada saudara-saudara lain beliau, nabi Yusuf Alaihissalam memberi kebijakan berupa bantuan bahan pangan, gandum, yang bisa dibawa pulang kembali ke tempat asal, tempat tinggal nabi Ya’kub Alaihissalam.
Tanpa sepengetahuan seorang pun, diantara tumpukan gandum-gandum disisipkan sebuah piala raja oleh nabi Yusuf Alaihissalam, untuk menguji hingga sejauh mana terdapat perubahan sikap atas saudara-saudara beliau, yang dulu pernah berlaku zalim.
Naas, dalam perjalanan kembali ke kampung halaman, rombongan saudara-saudara nabi Yusuf Alaihissalam dituduh mencuri alat takar perdagangan oleh sesama pelaku perjalanan panjang, khafilah.
Tak pelak, rombongan saudara-saudara nabi Yusuf Alaihissalam pun dituduh kelompok pencuri, yang dilaporkan hingga istana Mesir, yang nabi Yusuf Alaihissalam pun mendengar kabarnya.
Melalui proses pengusutan, tentu, ditemukan lagi piala raja yang pernah disusupkan oleh nabi Yusuf Alaihissalam ke dalam sebagian kantung gandum yang hendak di bawa pulang ke kampung halaman oleh saudara-saudara nabi Yusuf Alaihissalam.
"Apabila kami mencuri, maka ada saudara kami pula yang pencuri..." Kilah seorang saudara nabi Yusuf Alaihissalam. Rupanya, tabiat menzalimi sang Yusuf kecil tak pernah hilang dari pikiran mereka.
"Kedudukanku sekarang jauh lebih terhormat daripada kalian!" Ungkap nabi Yusuf Alaihissalam dalam hati, merasa jengkel demi mendengar kilah itu.
"Ijinkan kami pulang ke kampung halaman. Tinggalkan salah satu diantara kami, sebagai jaminan apabila kami terbukti mencuri." Pinta mereka memohon kebijakan, dengan memberi Bunyamin sebagai jaminan.
Kakak tertua nabi Yusuf Alaihissalam rupanya masih punya sikap bijak dengan mengingatkan saudara-saudara lainnya bahwa mereka pernah menzalimi Yusuf.
Lalu, mengingatkan pula bahwa janji kepada sang ayahanda, nabi Ya'qub Alaihissalam adalah tak lagi lalai terhadap Yusuf dan tak menzalimi Bunyamin saat dibawa ke Mesir.
"Kami bukanlah pencuri alat takar dan piala itu dan kami juga tak akan kembali ke Mesir, apabila ayahanda kami tak mengijinkan." Tegas putra nabi Ya'qub Alaihissalam yang tertua.
"Kembalilah menemui ayah kalian. Beritahu beliau bahwa kalian bukanlah pencuri. Juga, buat kafilah yang pernah menuduh kalian sekelompok pencuri, menyadari bahwa tuduhan itu keliru." Nabi Yusuf Alaihissalam memberi petunjuk sekaligus pengampunan kepada saudara-saudara beliau, agar kembali ke kampung halaman, sementara Bunyamin tetap tinggal di istana Mesir.
"Ayah selama ini sudah sangat bersabar...
Kasih Ayah Sepanjang Masa
Kembali ke kampung halaman, bersua sang ayahanda, nabi Ya'qub Alaihissalam, para putra yang mengalami tuduhan pencurian di Mesir, mencurahkan isi hati dihadapan sang ayah.
"Sungguh, kami bukanlah pencuri seperti yang mereka tuduhkan. Kami tiada pernah tahu mengapa tiba-tiba barang-barang itu berada di tumpukan gandum yang hendak kami bawa pulang." Keluh kesah mereka atas pengalaman tak mengenakkan kali kedua berkunjung ke Mesir, bersua petinggi istana yang bendaharawan itu.
"Jika tak percaya, silakan ayah bertanya tentang kami kepada semua penduduk negeri Mesir pun kafilah bersua dengan kami." Pungkas putra tertua mengakhiri curahan hati kepada sang ayahanda, nabi Ya'qub Alaihissalam.
Nabi Ya'qub Alaihissalam menghela nafas panjang demi mendengar curahan hati putra-putra beliau, yang tiada Yusuf dan Bunyamin di antara mereka
"Ayah selama ini sudah sangat bersabar. Kesabaran terbaik ayah semoga mengingatkan kalian akan perbuatan buruk yang pernah kalian lakukan, yang kalian pandang sebagai kebaikan." Tutur nabi Ya'qub Alaihissalam menahan sedih, karena segera beliau teringat akan nabi Yusuf Alaihissalam, putra kesayangan.
"Duhai Yusuf, duka cita ayah untukmu..." Tukas nabi Ya'qub Alaihissalam, menahan jutaan rasa sedih berbaur amarah, sementara beliau harus bersabar. Menunduk sedih, kedua mata beliau pun memutih, terlampau sedih.
"Ya Tuhan, ayah selalu mengingat Yusuf. Emang kami ini anak-anak apa'an! Toh sekarang ayah telah renta, sebentar lagi binasa!" Protes putra-putra yang kadar kebaikannya sangat jauh dari level kemuliaan nabi Yusuf Alaihissalam.
"Hanya kepada Tuhan semata ayah ini berkeluh kesah tentang sedih dan susah. Dari Tuhan pula ayah mengetahui apa yang kalian tak ketahui." Nabi Ya'qub Alaihissalam masih berusaha bersabar atas sikap pahit lidah putra-putra beliau selain Yusuf dan Bunyamin.
“Sekarang, demi membuktikan perbuatan baik kalian, carilah keberadaan Yusuf. Kembalilah ke negeri Mesir, bersua petinggi di sana, temui pula Bunyamin. Usahlah kalian berputus asa dalam mencari kabar tentang Yusuf. Berdoa pada Tuhan agar upaya kalian dilancarkan.” Pinta nabi Ya’qub Alaihissalam kepada putra-putra beliau, demi menebus kesalahan mereka yang lalu dan bersua dengan kedua putra yang salih, Yusuf dan Bunyamin.
...nama anak yang bertahun lampau pernah mereka berlaku zalim kepadanya.
Teladan Sikap Pemaaf
Kali ketiga para putra nabi Ya’qub Alaihissalam bertandang ke negeri Mesir, bersua dengan sang Al Aziz dan sang bendahara istana, nabi Yusuf Alaihissalam.
Mereka memohon sedekah dan bantuan pangan lagi kepada Al Aziz, sambil mencurahkan isi hati tentang kesengsaraan yang tengah menimpa keluarga mereka.
Kali ini pula nabi Yusuf Alaihissalam tegas berkata-kata, seolah sudah jenuh dengan segala ungkapan, tuturan pun alasan yang diajukan oleh saudara-saudara yang pernah menzalimi beliau, demi mendapatkan bantuan pangan.
“Selama ini, ternyata kalian tak pernah menyadari perbuatan buruk atas Yusuf dan saudara kalian!” Tegas nabi Yusuf Alaihissalam memutus curahan hati saudara-saudara beliau yang tengah menghiba di hadapan sang raja.
Sekaligus, mengingatkan bahwa selama ini mereka tak pernah menyadari akibat perbuatan terhadap beliau beserta Bunyamin yang dijadikan oleh mereka sebagai jaminan atas dugaan pencurian.
Terperanjat saudara-saudara nabi Yusuf Alaihissalam, kaget tiada kepalang.
Mereka selama ini bolak-balik bertandang menemui sang Al Aziz penguasa Mesir, juga petinggi istana yang juga berdaharawan itu, sama sekali tiada pernah menyebut nama Yusuf.
Tiba-tiba kali ini, sang bendaharawan istana ini menyebut satu nama anak yang bertahun lampau pernah mereka berlaku zalim kepadanya.
“Bagaimana yang mulia tahu tentang nama Yusuf? Kami tak pernah menyinggung nama itu. Siapa anda sebenarnya? Yusuf kah?” Salah seorang saudara yang paling kritis bertanya, mengajukan pertanyaan kepada nabi Yusuf Alaihissalam.
“Ya, aku memang Yusuf. Dan ini adalah Bunyamin saudaraku yang salih. Kiranya Tuhan memberi kebaikan kepada orang-orang yang tawakal dan bersabar menghadapi segala ujian pun cobaan.” Demikian nabi Yusuf Alaihissalam mengungkap jati diri beliau di hadapan saudara-saudara yang pernah bertindak zalim.
“Demi Tuhan, engkaulah ternyata Yusuf. Sungguh kini engkau lebih mulia daripada kami yang penuh dosa ini.” Ujar salah satu dari saudaraa-saudara nabi Yusuf Alaihissalam, yang menyadari betapa orang yang pernah mereka berbuat zalim terhadapnya, kini menjadi sosok yang jauh lebih mulia.
“Tiada mengapa, hari ini kita telah saling memaafkan. Tiada cercaan terhadap kalian. Semoga Tuhan mengampuni kalian, karena Dia Maha Pengasih dan Penyayang.” Bijak nabi Yusuf Alaihissalam berkata-kata berkelindan dengan isi hati yang penuh kemuliaan dan anugerah sosok nan rupawan.
“Sekarang, kembalilah lagi kalian pulang membawa bantuan yang telah kami siapkan. Ini, ada baju yang pernah saya kenakan. Berikan baju ini kepada ayahanda. Semoga beliau mengingat putranya yang pernah hilang, mengembalikan daya pandang.” Pinta nabi Yusuf Alaihissalam kepada saudara-saudara beliau yang telah tersadar dari perilaku khilaf.
“Lalu, bawa semua keluarga kalian ke negeri ini, kita memulai kehidupan baru di negeri Mesir ini.” Seraya nabi Yusuf Alaihissalam memandang sang Al Aziz yang mengangguk pertanda setuju bahwa sosok sang bendaharawan istana, yakni nabi Yusuf Alaihissalam memiliki perilaku mulia, yang sekeluarga beliau bakal memberi keteladanan bagi masyarakat Mesir.
Tiba kembali saudara-saudara nabi Yusuf Alaihissalam ke kampung halaman, bersua dengan sang ayahanda, nabi Ya’qub Alaihissalam. Baju yang pernah dikenakan oleh nabi Yusuf Alaihissalam pun diberikan kepada sang ayahanda.
“Yusuf telah hadir di sini. Aku merasakan kehadirannya.” Nabi Ya’qub Alaihissalam sangat bahagia, demi merasakan aroma tubuh nabi Yusuf Alaihissalam yang melekat dalam baju yang digenggam beliau. Seketika, pandangan beliau pulih karena bahagia. Tiada lagi kedua mata beliau memutih sedih namun berbinar penuh syukur.
“Mohonkan ampun kami kepada Tuhan, ayahanda. Kami telah berbuat khilaf terhadap putra-putra ayah yang salih.” Pinta mereka, para putra nabi Ya’qub Alaihissalam, bertobat.
“Aku akan memohonkan ampun bagi kalian. Sungguh Tuhan adalah Maha Pengasih dan Penyayang.” Bijak nabi Ya’qub Alaihissalam memenuhi permintaan putra-putra beliau yang telah bertobat. Segera pula beliau ingin bersua dengan nabi Yusuf Alaihissalam yang bertahun-tahun tiada kabar.
“Mimpi-mimpi yang menjadi nyata, atas ijin Tuhan Yang Maha Esa...
Hikmah Bersabar dan Tawakal
Kali keempat, saudara-saudara nabi Yusuf Alaihissalam bertandang ke tanah Mesir. Kali ini, bersama seluruh keluarga mereka beserta sang ayahanda, nabi Ya’qub Alaihissalam.
Perjalanan kali ini pula menjadi tonggak sejarah perpindahan bani Israil ke tanah Mesir, dari kampung halaman mereka, Kan’an yang telah turun temurun menjadi wilayah hunian sejak nabi Ibrahim Alaihissalam.
“Masuklah ke negeri Mesir. InsyaAllah kalian aman.” Demikian nabi Yusuf Alaihissalam pernah berpesan kepada saudara-saudara mereka.
Perasaan bahagia beriring kebersyukuran kepada Tuhan Yang Maha Esa, tergurat dari raut wajah nabi Ya’qub Alaihissalam saat bersua dengan nabi Yusuf Alaihissalam dan Bunyamin putra-putra yang salih.
“Ayah, semua ini atas kehendak Tuhan, telah membuktikan semua takwil mimpi bertahun lalu. Ada sebelas bintang, matahari dan bulan tengah bersujud di hadapanku.” Rasa bahagia pula terungkap dari nabi Yusuf Alaihissalam, demi bersua dengan sang ayahanda.
“Mimpi-mimpi yang menjadi nyata, atas ijin Tuhan Yang Maha Esa. Dia menyelamatkanku dari marabahaya, atas kehendakNya pula aku terhindar dari perbuatan nista, bebas dari penjara hingga saat ini bersua dengan ayahanda dan saudara-saudara dalam sebuah istana.” Ungkap nabi Yusuf Alaihissalam sambil mengiring langkah kedua orang tua beliau, duduk di singgasana istana.
Bersanding pula dengan para saudara beliau yang tunduk dan hormat pada sosok yang telah bertawakal dan bersabar menghadapi segala ujian Tuhan, Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
...termaknai sebagai suatu simpul.
Surah Terobosan
Surah Yusuf memang paling runtut bertutur tentang kisah perjalanan hidup nabi Yusuf Alahissalam dalam satu surah khusus, tanpa terpilah menjadi ayat-ayat yang bertutur tentang kisah perjalanan hidup baik para nabi maupun rasul, yang tersisip dalam surah-surah yang berlainan.
Kisah nabi Yusuf Alaihissalam dalam surah Yusuf, juga berakhir membahagiakan, happy ending, yang akhir kisahnya tak tersisip menjadi suatu jeda yang bersifat menjelaskan, maupun memperkuat ayat-ayat dalam surah-surah yang lain.
Ditinjau dari surah sebelum surah Yusuf, yakni surah Hud, surah kesebelas kitab suci Al Quran, maka surah Yusuf bisa termaknai sebagai suatu simpul. Dari kisah keteladanan para nabi sebagaimana tertuang dalam surah Hud, lalu menjadi khusus satu surah hanya berkisah tentang nabi Yusuf Alaihissalaam.
Kemudian, berlanjut pada surah berikutnya yakni surah Ar Ra'd, surah ketigabelas kitab suci Al Quran, yang bermakna; Guruh.
Bisa termaknai bahwa surah Yusuf adalah breakthrough, suatu terobosan dalam tatanan surah-surah Al Quran mushaf Utsmani, berturut mulai dari Al Fatihah sebagai surah pembuka yang sangat generik, menjadi surah induk Al Quran, ummul Quran, yang berlanjut ke surah-surah tentang hukum, yakni Al Baqarah, Ali Imron, An Nisa, Al Maidah dan Al An'am.
Lalu berlanjut pada surah ketujuh yakni Al A'raf tentang keberadaan langit tertinggi tempat manusia-manusia yang selama di dunia antara perbuatan baik dan perbuatan tak baiknya seimbang.
Berlanjut surah kedelapan, yakni Al Anfal tentang hukum khusus pampasan perang, yang berlanjut lagi dengan surah kesembilan, yakni At Taubah, satu-satunya surah dalam Al Quran, yang tanpa pembukaan kalimat Bismillaahirrahmaanirrahiim.
Surah At Taubah yang bermakna Pengampunan, menjadi satu-satunya surah yang berisikan peringatan sangat keras bagi orang-orang yang tidak berbuat kebaikan, bahkan tanpa pembukaan doa "Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang."
Kemudian berlanjut surah kesepuluh, yakni Yunus, tentang kisah pembuka perjalanan hidup nabi Yunus Alaihissalam, yang dalam surah-surah lainnya terdapat penjelasan akan kisah hidup beliau menjadi lebih rinci.
Lalu, surah kesebelas adalah surah Hud yang berkisah perjalanan hidup para nabi, yang mengajak kaumnya berbuat kebaikan dan akibat yang diterima oleh kaum yang mengingkari ajakan berbuat salih tersebut, sebagai bagian dari hikmah bagaimana orang-orang terdahulu berkesudahan.
Kemudian, surah Yusuf, dilanjutkan oleh surah Ar Ra'd, yang termaknai sebagai pembuka kisah-kisah perjalanan hidup orang-orang terdahulu, yang bersanding dengan kisah-kisah luar biasa, mengajak untuk merenung, mampu mengoyak daya pikir, unleashed the power of our imagination, sekaligus menginspirasi sains, ilmu pengetahuan.
Laksana gelegar guntur, maka surah Ar Ra'd menjadi pembuka kisah-kisah Kalam Ilahiah yang menggetarkan sekaligus menimbulkan harapan.
Ibaratnya, dari surah Yusuf yang relatif mudah termaknai, maka baik pengaji maupun pengkaji Al Quran lalu dibimbing untuk memasuki alam pemaknaan akan surah-surah berikutnya, yang diawali oleh kehadiran sang guntur yang menggetarkan jiwa dan pikiran sekaligus menuai harapan. Surah Yusuf adalah terobosan dari tatanan awal surah-surah dalam Al Quran.
Hikmah bersabar atas segala ujian Tuhan selama manusia hidup di dunia fana, menjadi kunci utama dari surah Yusuf.
Maha suci Allah dengan segala FirmanNya.
Telaga Asih, 09Desember2023.jpg)
Komentar
Posting Komentar