Moderasi Penentuan Insentif
Menerapkan Balanced Scorecard Sebagai Upaya Meningkatkan Kinerja
“Seringkali, posisi berat neraca keuangan berpihak pada keuntungan, selayaknya sebuah tempat usaha…“
Memasuki bulan penghujung tahun, banyak tempat usaha yang berorientasi pada keuntungan memulai kesibukan rutin tahunan, yaitu mempersiapkan laporan keuangan akhir tahun. Laporan yang tak hanya berisi data-data yang menunjukkan fakta kondisi keuangan setelah selama setahun berkinerja mengembangkan usaha, namun juga menghitung kekurangan pun kelebihan bobot neraca keuangan yang sekaligus menjadi evaluasi pencapaian usaha.
Meski jarang, apabila neraca lebih berat pada posisi
kekurangan, maka seluruh jajaran pada tempat usaha tersebut menyiapkan diri
untuk lebih mengevaluasi penyebab yang membuat keuntungan berkurang, sebagai
persiapan untuk berkinerja lebih baik selama tahun depan.
Seringkali, posisi berat neraca keuangan berpihak pada
keuntungan, selayaknya sebuah tempat usaha yang selalu memacu semua orang-orang
yang bekerja didalamnya, agar meraih keuntungan semaksimal mungkin, sesuai
tanggung jawab dan wewenang masing-masing.
Jika demikian, maka mulai jajaran manajemen tertinggi hingga pelaksana paling bawah, bakal menanti perhitungan sisa keuntungan yang akan dibagikan, sebagai Insentif, bonus hasil jerih payah selama setahun berkinerja mengembangkan usaha.
“Keliru satu titik, satu huruf, satu koma, apalagi satu angka, bakal memorak-porandakan kepercayaan jejaring stakeholder…”
Para
Pemangku Kepentingan
Formula dan kebijakan yang tepat dalam membagi sisa
keuntungan, bakal memacu gairah semua pekerja tempat usaha sebagai pemangku
kepentingan internal (internal
stakeholder), untuk berkinerja lebih baik pada tahun depan, bahkan pada masa-masa
mendatang.
Apabila dari waktu ke waktu orang-orang dalam jajaran stakeholder internal mampu
mempertahankan dan meningkatkan kinerja yang baik bagi sebuah tempat usaha,
maka kepercayaan para pemangku kepentingan eksternal (stakeholder eksternal) pun
semakin tumbuh.
Kepercayaan stakeholder eksternal sangatlah penting, karena turut menentukan eksistensi suatu tempat usaha dalam bersaing dan berkembang. Sebagai upaya untuk mengelola kepercayaan stakeholder eksternal, maka suatu tempat usaha harus memiliki susunan peta pengelompokan stakeholder, yang dalam penelaahan selanjutnya menjadi saling terkait, membentuk suatu jejaring (network).
Sering tanpa disadari, jejaring stakeholder eksternal secara langsung maupun tak langsung turut memengaruhi
kinerja tempat usaha tersebut. Bahkan, jejaring stakeholder eksternal mampu menggiring opini kinerja suatu tempat
usaha dalam bentuk sentimen pasar.
![]() |
| Gambar 1. Contoh Peta Jejaring Stakeholder Toko Skala Usaha Mikro Kecil Menengah. |
Oleh karenanya, laporan keuangan tahunan (Annual Report) suatu tempat usaha,
khususnya yang berorientasi pada pencapaian keuntungan, harus tersusun rapi dan
serius serta faktual. Keliru satu titik, satu huruf, satu koma, apalagi satu
angka, bakal memorak-porandakan kepercayaan jejaring stakeholder eksternal.
Dengan demikian, ketepatan formula dan momen mengeluarkan
kebijakan untuk membagi sisa keuntungan usaha kepada setiap orang dalam jajaran
stakeholder internal, guna
meningkatkan gairah berkinerja lebih baik, adalah kunci untuk menutup rapat
pintu kepercayaan jejaring stakeholder eksternal,
agar kepercayaan itu tak lari entah kemana.
Bagaimana memaknai proses
untuk menghasilkan formula dan momen kebijakan yang tepat tersebut, maka
menarik kita simak bersama ulasan berikut ini.
“Secara mendasar, dalam metode Balanced Scorecard terdapat 4 (empat) perspektif sebagai obyek-obyek penting melakukan pengukuran yang bisa mengendalikan kinerja…”
Kartu
Skor yang Klop dan Seimbang
Tahun 1992 tercatat menjadi tahun yang revolusioner bagi penataan sebuah kinerja tempat usaha. Adalah Robert Kaplan dan David Norton, untuk pertama kalinya pada tahun itu, menggagas dan memperkenalkan kepada dunia tentang metode pengukuran yang komprehensif terhadap kinerja pencapaian sasaran strategis pada sebuah organisasi.
The
Balanced Scorecard-Measures that Drive Performance,
demikian judul materi tulisan dalam yang terbit sebagai kabar yang menarik
sebagai bahan baru telaahan dan diskusi (issue)
selama bulan januari hingga Pebruari tahun 1992, pada sebuah majalah terbitan
Universitas Harvard Amerika Serikat, bernama Harvard Business Review (HBR).
Tak hanya mengulas tentang manajemen secara umum, HBR juga
menjadi ruang baca yang memfasilitasi ajang berbagi saran berupa ide-ide baru
maupun klasik tentang penyusunan strategi, inovasi dan kepemimpinan.
Bahkan, artikel-artikel yang termuat dalam HBR menjadi
sumber inspirasi bagi banyak pemimpin organisasi dunia dalam menjalankan dan
mengendalikan roda usaha, agar berkinerja meraih keberhasilan sesuai cita-cita
yang ditetapkan.
Secara mendasar, dalam metode Balanced Scorecard terdapat 4 (empat) perspektif sebagai obyek-obyek penting melakukan pengukuran yang bisa mengendalikan kinerja, yaitu;
- Mengorganisasi Perkembangan Pembelajaran dan Pertumbuhan (Organizational Learning and Growth Development).
- Menjalani Proses Bisnis Internal (Internal Business Process).
- Menelaah Kebutuhan Pelanggan (Customer).
- Mengelola Keuangan (Financial).
Pengukuran sistematis terhadap keempat perspektif tersebut,
sejalan dengan inti metode Balanced
Scorecard itu sendiri, yaitu memobilisasi kombinasi asset-aset fisik (tangible) dan non fisik (intangible) guna menumbuhkan
kepercayaan pelanggan, sehingga meraih keunggulan dalam menambah pundi-pundi
keuangan.
Terdapatnya pengukuran terhadap hal-hal yang berorientasi pada masa depan sebagai Indikator Leading dan hal-hal yang telah terjadi sebagai Indikator Lagging, juga terdapatnya hubungan sebab akibat (Cause Effect) pada kedua indikator tersebut dalam setiap perspektif, menjadi kelebihan tambahan dari metode Balanced Scorecard.
| Gambar 2. Contoh Alur Hubungan Sebab Akibat Empat Perspektif Balanced Scorecard. Sumber Andre de Wall, Strategic Performance Management and Creative Industry, 2009. |
Jelas, melalui penggunaan Balanced Scorecard, maka tempat usaha menjadi suatu organisasi yang
lebih maju dibanding pengelolaan usaha tradisional. Menjadi demikian, karena
dalam mengukur dan mengaitkan keempat perspektif dalam metode tersebut, maka pelaku
usaha akan terdorong untuk memacu profitabilitas tempat usaha, pada masa-masa
mendatang.
Memberi pemahaman mendasar kepada seluruh jajaran dalam stakeholder internal, serta menyepakati proses
pencatatan dan penilaian kinerja setiap individu yang terlibat dalam satu Kartu
Skor, merupakan upaya awal dalam menerapkan metode Balanced Scorecard.
Sebuah Kartu Skor yang mewakili satu sistem berjenjang,
yang mengakomodasi Indikator Leading
dan Lagging pada setiap perspektif,
menjadi pertimbangan utama sejauhmana setiap individu dalam komunitas stakeholder internal telah memberi
kontribusi pada target kinerja tempat usaha.
Sistem yang demikian, menjadi
terjemahan yang mewakili makna Balanced
Scorecard. Yaitu, setiap individu dalam organisasi, bakal terukur
kinerjanya melalui sebuah Kartu Skor, yang Klop dengan Visi dan Misi tempat
usaha.
Tak hanya Klop, namun juga Seimbang
dengan tanggungjawab dan kewenangan yang melekat pada diri mereka masing-masing.
“…makna kata dan kalimat dalam Visi dan Misi yang telah ditetapkan, menjadi tolok ukur kuantitatif dalam menentukan indikator kinerja kunci bagi setiap individu dalam jajaran internal stakeholder.”
Visi
dan Misi
Memutuskan untuk menerapkan metode Balanced ScoreCard, berarti telah serius memaknai Visi dan Misi
yang telah ditetapkan oleh suatu organisasi, baik yang berorientasi pada
keuntungan maupun bukan.
Visi dan Misi yang tertulis, bukan sekedar susunan kata
serta kalimat yang mendaki indah dan menjadi pajangan di tempat-tempat banyak
orang bisa membaca. Namun, lebih menjadi susunan kata dan kalimat, yang mewakili
tekad organisasi tersebut serta sepenuhnya mendapat kepercayaan oleh stakeholder, baik internal maupun eksternal,
untuk memenuhi tekad dimaksud.
Kata dan kalimat dalam Visi dan Misi, bersifat terukur dan efektif, dalam pengertian mudah dipahami bahkan diingat, khususnya bagi orang-orang sebagai stakeholder internal. Bahkan, kata dan kalimat dalam Visi dan Misi bisa menjadi sugesti tersendiri, yang mampu menghipnosis pembacanya untuk kemudian mengkontribusi kinerja menjadi bagian dalam mencapai Visi dan Misi tersebut.
Melalui Balanced
Scorecard, maka makna kata dan kalimat dalam Visi dan Misi yang telah
ditetapkan, menjadi tolok ukur kuantitatif dalam menentukan indikator kinerja
kunci bagi setiap individu dalam jajaran stakeholder
internal.
Indikator kinerja kunci tersebut dikenal dengan sebutan; Key Performance Indicator (KPI). Dalam KPI dijabarkan tanggungjawab dan wewenang setiap individu, sesuai dengan tugas dan wewenang yang melekat padanya, sebagai konsekuensi bagian dari stakeholder internal, kontributor kinerja bagi kemajuan organisasi.
Tak hanya menjabarkan, maka dalam KPI juga ditetapkan bobot
kuantitatif setiap rincian tanggungjawab dan wewenang setiap individu, dalam
bentuk satuan-satuan ukur (metrik) pencapaian. Seperti Unit, Kilogram, Liter,
Jam, Hari, Minggu, Bulan, atau dinyatakan sebagai ‘Tak Terpakai’ atau ‘NOMs’
(No Metrics), bila KPI tak bisa dinyatakan
dalam satuan ukur.
Kemudian, KPI yang memiliki satuan metrik tersebut mendapat target pencapaian, yang pemenuhan riilnya harus dilaporkan baik harian, mingguan, bulanan, triwulanan, semesteran maupun tahunan. Berkelindan dengan KPI, adalah Key Result Area (KRA). Sebuah kunci untuk mengendalikan pencapaian terhadap sasaran-sasaran strategi usaha, sebagai hasil utama.
Jika KPI jelas-jelas bersifat kuantitatif karena memiliki satuan ukur dengan target pencapaian yang terukur, maka KRA bersifat kualitatif yang mengejawantahkan makna tersurat dalam Visi dan Misi organisasi, guna mengungguli persaingan dan bertumbuh kembang. Dengan demikian, terdapat keterkaitan erat antara KRA dengan KPI, berupa aktualisasi konsep yang terukur dalam konteks menjadi kompetitif dan berkembang lebih baik.
Mengelola pemenuhan KRA dan KPI secara konsisten, tak hanya mewakili komitmen untuk menerapkan metode Balanced Scorecard.
Namun, lebih penting dari itu,
penerapan metode Balanced Scorecard
juga komitmen mewujudkan Visi dan Misi yang bisa membuat sebuah organisasi
mendapat kepercayaan sebagai organisasi yang keberadaannya mampu menebar
nilai-nilai yang positif dan bermanfaat, oleh para stakeholder baik internal maupun eksternal.
“Selama dua dasawarsa menjalani usaha, toko Timbang Mrono juga telah memiliki jejaring belajar untuk merangkum tekad untuk mampu bersaing dan bertumbuh kembang, yang dikemas dalam susunan kalimat Visi dan Misi…”
Praktik
Menyusun Balanced Scorecard
Sekarang, mari kita membuat sebuah studi kasus sederhana, untuk
membuat ulasan tentang Balanced Scorecard
tersebut di atas, dalam hal ini bagi sebuah organisasi yang berorientasi pada
usaha meraih keuntungan, menjadi sebuah contoh praktis.
Terdapat sebuah toko yang memiliki skala usaha mikro kecil dan menengah (UMKM), bernama ‘Timbang Mrono’. Secara umum, makna dari ‘Timbang Mrono’ mengambil kalimat bahasa Jawa yang kurang lebih berarti; ‘Daripada ke Sana.’
Berdiri sejak tahun 2001, toko Timbang Mrono bergerak dibidang usaha jual beli pakaian dengan kualitas produk bagi anak-anak usia balita hingga remaja, yang menyasar segmen pasar menengah atas.
Berawal dari usaha menjual produk dari pameran ke pameran
yang diselenggarakan di beberapa pusat perbelanjaan di pusat kota dan hanya
dikelola oleh 3 (tiga) orang termasuk pemilik usaha, maka dalam perjalanan
selama dua puluh tahun kemudian mengalami kemajuan usaha dengan memiliki sebuah
toko sendiri, yang melayani langsung para pelanggannya secara luring.
Tak hanya melayani secara luring, dalam perkembangannya toko Timbang Mrono juga melayani kebutuhan pelanggan dalam bentuk daring, menggunakan fasilitas aplikasi-aplikasi media sosial. Karyawan pendukung toko ini juga berkembang, mulai dari 3 (tiga) orang menjadi 11 (sebelas) orang, yang terdiri dari;
- Satu orang Pemilik Toko Timbang Mrono.
- Satu orang Pengelola Keuangan dan Penjualan.
- Satu orang Pengelola Gudang Stok Produk.
- Tiga orang tenaga Promosi dan Penjualan Luring.
- Satu orang tenaga Promosi dan Penjualan Daring.
- Dua orang petugas Kurir.
- Satu orang petugas Keamanan Sarana/Prasarana.
- Satu orang petugas Kebersihan dan Kerapihan.
- Satu orang independen diluar organisasi sebagai penasehat pengelolaan kinerja.
![]() |
| Gambar 3. Struktur Organisasi Toko Timbang Mrono. |
Tak hanya menjadi sebuah tempat usaha yang berkembang
memiliki stakeholder internal, toko Timbang Mrono juga berkembang dalam
memenuhi kepercayaan stakeholder eksternal,
yaitu; pelanggan, pemasok barang, broker,
situs jual beli daring, pemutakhiran sistem keuangan dan penjualan, pemasok
listrik, pemasok air bersih, bengkel perawatan sarana transportasi, masyarakat
sekitar, hingga lembaga pemerintah.
Selama dua dasawarsa menjalani usaha, maka pemilik toko Timbang Mrono juga telah memiliki jejaring dan belajar merangkum tekad untuk mampu bersaing dan bertumbuh kembang, yang dikemas dalam susunan kalimat Visi dan Misi, sebagai berikut;
- Visi
Menjadi toko terpercaya memenuhi kebutuhan baju berkualitas prima bagi kalangan usia balita hingga remaja.
- Misi
Menjalankan sistem usaha berorientasi kepuasan pelanggan, melalui penerapan kinerja yang terukur dalam hal;
- Efisiensi biaya, menjamin putaran modal untuk menyediakan produk berkualitas sesuai kebutuhan pasar.
- Layanan efektif, didukung perilaku berintegritas dan teknologi penjualan baik luring maupun daring.
- Waktu ringkas dalam proses serah terima produk, baik dari pemasok maupun kepada pelanggan.
- Aktif mendukung Protokol Kesehatan, guna mencegah penularan Covid19.
![]() |
| Gambar 4. Skema Strategi Usaha Toko Timbang Mrono. |
Gambaran umum perjalanan usaha
toko Timbang Mrono beserta
identifikasi terhadap para stakeholder
serta Visi dan Misi yang telah ditetapkan, telah cukup menjadi data sebagai
bahan telaahan lebih spesifik, menjadi perspektif-perspektif dalam metode Balanced Scorecard.
Gambar 4 merupakan pemerian umum strategi pemilik toko Timbang Mrono bersama tim kerjanya dalam upaya mewujudkan Visi dan Misi, menjadi proses berkegiatan nyata menuju keberhasilan. Tatanan strategi usaha tersebut, merupakan hasil telaahan panjang, melalui beberapa tahapan mengacu metode Balance Scorecard, dengan uraian rinci sebagaimana berikut ini.
“Pada umumnya, sebuah organisasi hanya fokus pada kajian SWOT, tanpa pernah melanjutkan kajian TOWS.”
Kajian
SWOT Toko Timbang Mrono
Sebelum merinci makna yang tersurat dalam Visi dan Misi
kedalam keempat perspektif metode Balanced
Scorecard, maka dilakukan kajian tentang kekuatan (Strength), kelemahan (Weakness),
peluang (Opportunity) dan ancaman (Threat), yang menjadi kenyataan untuk
dihadapi oleh pengelola toko Timbang
Mrono, sejalan dengan pengalamannya dalam menjalankan bisnis selama dua
dasawarsa.
Kajian ini tersebut lebih dikenal sebagai SWOT Analysis, dengan rincian sebagai berikut ini;
Strength (S)
Berikut hal-hal penting yang dinilai menjadi kekuatan toko Timbang Mrono, yaitu telah memiliki;
- Jejaring pengembangan usaha yang cukup luas, hasil kinerja dua dasawarsa.
- Cukup modal usaha, hasil akumulasi sisa keuntungan yang disiplin hanya untuk perputaran penjualan produk.
- Karyawan berintegritas, dalam menjalani tugas dan tanggungjawab.
- Sarana dan prasarana fisik terletak di kawasan niaga yang strategis.
- Pelanggan, pemasok dan broker tetap, yang loyal, baik secara luring maupun daring.
Weakness (W)
Berkebalikan dengan kekuatan, berikut adalah kelemahan toko Timbang Mrono, yaitu belum memiliki;
- Sistem penelaah trend kebutuhan pasar, membantu rencana penyediaan produk.
- Sistem pemilahan kualitas produk jenis tertentu dari pemasok, terkait kelemahan pertama.
- Contingency plan apabila pasar mendadak jenuh atau force majeure.
- Sistem pengembangan kapasitas dan kemampuan karyawan penjualan.
- Sistem umpan balik stakeholder, khususnya karyawan dan pelanggan tetap.
Opportunity
(O)
Adapun peluang-peluang yang dimiliki oleh toko Timbang Mrono untuk bersaing dan bertumbuh kembang, adalah sebagai berikut;
- Penjualan berkelanjutan memenuhi kebutuhan baju dan aksesoris untuk usia kalangan anak - remaja.
- Mendapatkan produk berkualitas prima dari pemasok pemilik ijin usaha legal.
- Mendapat kepercayaan stakeholder, sebagai penyedia bahan kebutuhan sandang kualitas prima, harga terjangkau.
- Pengembangan usaha bidang makanan dan minuman cepat saji.
- Pengembangan usaha bidang produk garmen skala mikro bermerek dagang milik sendiri.
Threat
(T)
Sementara itu, terdapat beberapa ancaman yang patut mendapat perhatian dari pengelola toko Timbang Mrono, yaitu terjadi;
- Kebakaran toko karena bahan tekstil yang mudah terbakar.
- Pencurian produk atau benda berharga, di dalam maupun di sekitar toko.
- Penipuan pasokan produk tak berkualitas sesuai kebutuhan pasar.
- Kekosongan kegiatan toko karena penularan Covid19 antara karyawan toko.
- Penurunan penjualan karena ketidakpercayaan stakeholder akibat kualitas layanan tak sesuai Misi yang ditetapkan.
Rincian poin-poin penting yang menjadi masukan peta SWOT tersebut di atas, kemudian
berlanjut ke kajian TOWS guna
menentukan prioritas kinerja, sekaligus sebagai acuan dalam melakukan tindakan
perbaikan, agar toko Timbang Mrono
menjadi lebih kompetitif.
| Gambar 5. Kuadran Hasil Kajian SWOT Toko Timbang Mrono. |
Kajian
TOWS Toko Timbang Mrono
Pada umumnya, sebuah organisasi hanya fokus pada kajian SWOT, tanpa pernah melanjutkan kajian TOWS.
Kajian TOWS pada
intinya adalah melanjutkan telaahan terhadap hasil kajian SWOT, dengan cara memadukan
Kekuatan dan Kelemahan sebagai Karakteristik, serta Peluang dan Ancaman sebagai
Elemen.
Selanjutnya, menetapkan rumusan yang memadukan
Karakteristik dengan Elemen, yaitu; S-O, W-O dan S-T, W-T,
guna merinci prioritas kinerja, menjadi program-program kerja yang bakal
ditetapkan.
Mengacu hasil SWOT, maka kajian TOWS toko Timbang Mrono adalah sebagai berikut;
Strength
– Opportunity (S-O)
Memadukan karakteristik kekuatan dan elemen peluang pada toko Timbang Mrono, menghasilkan rincian prioritas kinerja sebagai berikut;
- S(1+2) – O(1) = Meningkatkan jejaring usaha, disiplin mengelola modal putaran usaha, serta fokus pemasaran dan penjualan produk.
- S(3) – O(3) = Mengembangkan pola edukasi dan keteladanan untuk berkinerja yang berintergitas kepada setiap karyawan.
- S(4) – O(4+5) = Merencanakan jenis usaha baru, menggunakan fasilitas toko beserta lingkungan beratmosfir kerjasama saling menguntungkan.
- S(5) – O(1+2+3) = Merawat loyalitas pelanggan, menjamin kualitas produk dari pemasok dan menjaga putaran piutang broker, memastikan kelancaran penjualan yang minim komplain.
Weakness – Opportunity (W-O)
Memadukan karakteristik kelemahan dan elemen peluang pada toko Timbang Mrono, menghasilkan rincian prioritas kinerja sebagai berikut;
- W(1+2) – O(1+2) = Membuat sistem informasi daring yang terintegrasi dengan database toko, sebagai kajian mengikuti trend kebutuhan pasar dan menjamin kualitas produk.
- W(3) – O(3) = Menetapkan contingency plansebagai bagian pengelolaan risiko, dengan mempertimbangkan kapasitas riil dan kondisi terkini kinerja toko beserta faktor-faktor pendukungnya.
- W(4+5) – O(3+4+5) = Membuat sistem luring terukur, untuk meningkatkan kemampuan dan integritas karyawan, serta mengakomodasi umpan balik pelanggan tetap.
Strength – Threat (S-T)
Memadukan karakteristik kelemahan dan elemen peluang pada toko Timbang Mrono, menghasilkan rincian prioritas kinerja sebagai berikut;
- S(1+2) – T(3+5) = Memastikan aktifitas toko berorientasi kepuasan pelanggan baik secara luring maupun daring, serta menjamin produk pasokan berkualitas, prima sesuai kebutuhan pelanggan.
- S(3+4) – T(1+2+3+4) = Memastikan berjalannya pemantauan dan perawatan terhadap kondisi toko beserta lingkungannya, menerapkan Prokes, serta bertindak cepat jika ada kondisi ataupun tindakan tidak aman.
- S(5) – T (3+5) = Memastikan selalu aktif mengembangkan dan merawat jejaring pelanggan, pemasok dan broker, dalam hubungan yang saling menguntungkan.
Weakness
– Threat (W-T)
Memadukan karakteristik kelemahan dan elemen ancaman pada toko Timbang Mrono, menghasilkan rincian prioritas kinerja sebagai berikut;
- W (1+2) – T (3+5) = Memastikan realisasi sistem informasi daring yang terintegrasi dengan database toko, sebagai kajian mengikuti trend kebutuhan pasar dan menjamin kualitas produk.
- W (3) – T (1+2+4) = Memastikan realisasi penetapan contingency plan, khususnya terkait dengan ancaman kebakaran, pencurian dan penularan Covid19 di dalam toko.
- W (4+5) – T (5) = Memastikan realisasi sistem luring terukur, untuk meningkatkan kemampuan dan integritas karyawan, serta mengakomodasi umpan balik pelanggan tetap.
![]() |
| Gambar 6. Kuadran Hasil Kajian TOWS Toko Timbang Mrono. |
Risalah
Kajian SWOT dan TOWS Toko Timbang Mrono
Kajian SWOT dan TOWS, dilakukan dalam suatu kegiatan bersifat lokakarya (workshop), yang melibatkan semua stakeholder internal pada toko Timbang Mrono. Bila perlu, dalam lokakarya tersebut menghadirkan sebagian stakeholder eksternal, seperti pelanggan tetap, pemasok dan broker, yang dinilai telah memberi kontribusi positif terhadap eksistensi toko Timbang Mrono.
Kehadiran stakeholder eksternal dalam lokakarya tersebut adalah sebagai pengamat dan pemberi umpan balik. Sementara, penentuan program-program kerja strategis yang menjadi target kinerja, tetap menjadi ranah kewenangan pemilik toko Timbang Mrono dan disepakati oleh para karyawan sebagai stakeholder internal.
Mengacu hasil kajian SWOT
dan TOWS yang masing-masing
dirangkum menjadi peta-peta kuadran sebagaimana Gambar 5 dan Gambar 6, maka
diperoleh kesimpulan bahwa terdapat 10 (sepuluh) program kerja toko Timbang Mrono.
Berturut-turut mulai dari prioritas tinggi, prioritas
sedang dan prioritas rendah, yang ditetapkan oleh pemilik toko Timbang Mrono, menjadi program kerja
yang harus dicapai dalam kurun waktu satu hingga tiga tahun.
Adapun rincian 10 (sepuluh) program kerja hasil kajian SWOT dan TOWS toko Timbang Mrono adalah sebagaimana tertuang dalam Tabel 1 berikut;
![]() |
| Tabel 1. Daftar Program Kerja Tahun 2021 Toko Timbang Mrono. |
Kesepuluh program kerja tersebut, menjadi pertimbangan utama bagi pemilik toko Timbang Mrono untuk mengembangkan tempat usahanya menjadi lebih kompetitif dan maju. Oleh karenanya, kesepuluh program kerja tersebut ditetapkan menjadi target dengan pencapaian yang terukur dan melibatkan seluruh karyawan, dalam bentuk penugasan-penugasan yang terselaraskan dan mengalir dari atas ke bawah (cascading).
Penugasan-penugasan yang mengalir mulai dari pucuk pimpinan
tertinggi, dalam hal ini adalah pemilik toko Timbang Mrono sebagai penggagas utama Visi dan Misi yang hendak
dipenuhi dalam bentuk program-program kerja, hingga pelaksana tugas paling
bawah dalam struktur organisasi.
Adapun penyelarasan program kerja menjadi penugasan yang
akan mengalir tersebut, juga mempertimbangkan bobot tugas pokok, tanggungjawab
dan wewenang pelaksana program kerja.
Dengan demikian, target program-program kerja yang hendak
dicapai oleh setiap karyawan, adalah upaya untuk merealisasikan Visi dan Misi,
yang diurai dan ditetapkan bersama melalui kajian SWOT dan TOWS, serta diselaraskan
dengan perspektif pemilik usaha sebagai pimpinan puncak toko Timbang Mrono.
Dengan kata lain, komitmen
untuk mengejawantahkan Visi dan Misi toko Timbang
Mrono, mengalir mulai puncuk pimpinan tertinggi hingga karyawan paling
bawah sebagaimana tertera pada struktur organisasi.
“…program-program kerja tersebut, disusun menjadi kalimat efektif maksimum terdiri dari 8 (delapan) kata, tanpa mengurangi makna. Kemudian dalam setiap kalimat efektif program kerja tersebut mulai dirinci kuantitatif target-target yang menjadi KPI bagi setiap karyawan…“
Diagram
Empat Perspektif, Program Kerja dan KPI
Menjabarkan Visi dan Misi sebagai
program-program kerja yang hendak dicapai, bisa menjadi masukan dalam keempat
perspektif pada metode Balanced Scorecard.
Memasukkan kesepuluh program kerja yang telah ditetapkan, dilakukan secara berjenjang mulai dari perspektif paling dasar hingga ke perspektif paling tinggi, dengan rincian sebagai berikut;
Perspektif 1: Mengorganisasi perkembangan pembelajaran dan pertumbuhan.
Mengakomodasi program-program kerja meliputi;
- Mengembangkan pola edukasi dan keteladanan untuk berkinerja yang berintergitas kepada setiap karyawan.
- Memastikan realisasi sistem luring terukur, untuk meningkatkan kemampuan dan integritas karyawan, serta mengakomodasi umpan balik pelanggan tetap.
Mengakomodasi program-program kerja meliputi;
- Meningkatkan jejaring usaha, disiplin mengelola modal putaran usaha, serta fokus pemasaran dan penjualan produk.
- Memastikan berjalannya pemantauan dan perawatan terhadap kondisi toko beserta lingkungannya, menerapkan Prokes, serta bertindak cepat jika ada kondisi ataupun tindakan tidak aman.
Mengakomodasi program-program kerja meliputi;
- Merawat loyalitas pelanggan, menjamin kualitas produk dari pemasok dan menjaga putaran piutang broker, memastikan kelancaran penjualan yang minim komplain.
- Merencanakan jenis usaha baru, menggunakan fasilitas toko beserta lingkungan beratmosfir kerjasama saling menguntungkan.
- Memastikan aktifitas toko berorientasi kepuasan pelanggan baik secara luring maupun daring, serta menjamin produk pasokan berkualitas, prima sesuai kebutuhan pelanggan.
Mengakomodasi program-program kerja meliputi;
- Memastikan selalu aktif mengembangkan dan merawat jejaring pelanggan, pemasok dan broker, dalam hubungan yang saling menguntungkan.
- Memastikan realisasi penetapan contingency plan, khususnya terkait dengan ancaman kebakaran, pencurian dan penularan Covid19 di dalam toko.
- Memastikan realisasi sistem informasi daring yang terintegrasi dengan database toko, sebagai kajian mengikuti trend kebutuhan pasar dan menjamin kualitas produk.
Kemudian, dalam setiap kalimat efektif program kerja tersebut, mulai dirinci kuantitatif target-target yang menjadi KPI bagi setiap karyawan toko Timbang Mrono, sebagaimana tertuang dalam Tabel 2 berikut ini.
![]() |
| Tabel 2a. Daftar Program Kerja dan KPI Tahun 2021 Toko Timbang Mrono. (Perspektif: Pembelajaran dan Pertumbuhan). |
![]() | |
| Tabel 2b. Daftar Program Kerja dan KPI Tahun 2021 Toko Timbang Mrono. (Perspektif: Proses Bisnis Internal). |
![]() |
| Tabel 2c. Daftar Program Kerja dan KPI Tahun 2021 Toko Timbang Mrono. (Perspektif: Kebutuhan Pelanggan.) |
![]() |
| Tabel 2d. Daftar Program Kerja dan KPI Tahun 2021 Toko Timbang Mrono. (Perspektif: Mengelola Keuangan.) |
Mengacu rincian kalimat efektif pada Program-Program Kerja sebagaimana tertuang dalam Tabel 1 tersebut di atas, maka selanjutnya disusun diagram yang menunjukkan keterkaitan Program-Program Perja dengan keempat perspektif dalam Balanced Scorecard, sebagaimana tergambar dalam Gambar 8 berikut ini.
![]() |
| Gambar 8. Diagram Balanced Scorecard dan Program-Program Kerja Toko Timbang Mrono. |
Mengacu
Tabel 1 pula, maka sebanyak 43 (empat puluh tiga) KPI kemudian dimasukkan dalam
setiap Program Kerja yang sesuai dengan masing-masing perspektif dari keempat perspektif, sehingga menjadi diagram Balanced Scorecard sebagaimana Gambar 9
berikut ini.
![]() |
| Gambar 9. Diagram Balanced Scorecard, Daftar Program-Program Kerja Tiap Perspektif dan Susunan KPI Tiap Program Kerja Pada Toko Timbang Mrono. |
“Program-Program Kerja adalah penjabaran Visi dan Misi tempat usaha, maka susunan Aliran KPI adalah upaya aktualisasi Visi dan Misi oleh setiap orang yang tercantum dalam struktur organisasi, melalui kinerja terukur."
Penetapan
KPI dan Penerbitan Kartu Klop Seimbang
Berdasar Tabel 2 dan Gambar 9, dimana telah teridentifikasi
Program Kerja dan KPI yang mengacu Visi dan Misi tempat usaha dalam satu
diagram Balanced Scorecard, maka
langkah selanjutnya adalah menentukan kinerja terukur dalam bentuk penetapan
KPI bagi setiap karyawan toko Timbang
Mrono.
Penetapan KPI bagi karyawan, tentu mempertimbangkan tugas
dan wewenang utama serta kedudukannya dalam struktur organisasi.
![]() |
| Gambar 10. Pemilahan Aliran KPI Pada Struktur Organisasi Toko Timbang Mrono. |
Mengacu Gambar 10, maka setiap fungsi dalam organisasi toko
Timbang Mrono telah dipilah sesuai
kategori kepemilikan KPI, yang sesuai dengan tugas pokok dan wewenang serta
posisinya dalam struktur organisasi.
Dalam struktur organisasi tersebut, maka terdapat 4 (empat)
ranah kinerja yang melekat pada setiap karyawan dengan setiap KPI yang
dimilikinya, yang merupakan Aliran (cascade)
KPI dari Pemilik, dengan kode ranah; n.
Kode n mewakili
suatu jumlah yang tak terhingga, sebagaimana simbol dalam rumus statistika.
Dalam penyusunan Aliran KPI, maka ranah pemilik KPI juga tak terhingga,
tergantung jumlah orang yang menekuni ranah kinerja dalam suatu organisasi.
Dengan demikian, Aliran KPI dalam sebuah organisasi merupakan
pengurangan jumlah KPI dari manajemen puncak sebagai pemilik ranah kinerja
paling tinggi, hingga ranah kinerja paling bawah.
Dalam hal struktur organisasi toko Timbang Mrono, maka urutan pemilik ranah kinerja mulai paling
tinggi mengalir ke bawah, berturut-turut adalah; n, n-1, n-2, n-3.
Telah jelas, bahwa KPI adalah indikator utama kinerja untuk
mencapai program-program kerja.
Sementara, program-program kerja adalah penjabaran Visi dan
Misi tempat usaha, maka susunan Aliran KPI adalah upaya aktualisasi Visi dan
Misi oleh setiap orang yang tercantum dalam struktur organisasi, melalui
kinerja terukur.
Dengan pemahaman demikian, maka KPI bagi setiap orang dalam
struktur organisasi ditetapkan melalui tahapan menata sebaran KPI umum, sebagaimana
tertuang diagram Balanced Scorecard
pada Gambar 9.
Kemudian, berlanjut dengan merinci susunan Aliran KPI milik
orang per orang dalam organisasi tersebut, sebagaimana tertera pada Gambar 10.
Penetapan KPI bagi setiap orang dalam organisasi, harus
mempertimbangkan tugas dan wewenang utama.
Selain itu, rincian KPI juga meliputi;
1. Satuan
/ Metrik. Seperti;
a. Jumlah.
b. Volume
(Liter, Cc., Galon).
c. Berat
(Gram, Kilogram, Kwintal, Ton).
d. Batch.
e. Index
(Ditetapkan tersendiri berupa urutan syarat pencapaian).
f. Nominal
(Rp, USD, RM).
g. Persen
(%).
2. Sifat,
apakah Memiliki (Own), Mendukung (Supports) atau Membagi (Shares), dengan pengertian sebagai
berikut;
a. Own; Berupa KPI yang dimiliki
oleh orang dalam organisasi, yang punya ranah kinerja paling sesuai. Sementara
orang lain yang menjadi bawahan atau kolega setaranya, bisa mengambil KPI Own tersebut, sebagai KPI Supports.
b. Supports; Berupa KPI yang bersifat
bisa mendukung KPI Own milik atasan maupun
kolega. Atau KPI tersebut sifatnya mendukung langsung pemenuhan program-program
kerja.
c. Shares; Berupa KPI yang
pencapaian targetnya dibagi dengan kolega, baik yang memiliki ranah kinerja
sama maupun berbeda, namun berada dalam perspektif yang sama.
3. Target
pencapaian yang dipilih menjadi setidaknya 4 (empat) Level (L), yaitu:
a. Dibawah
L2 (<L2); Tak tercantum, karena mewakili Level pencapaian dibawah minimal
dari target yang ditetapkan.
b. L2;
Level pencapaian minimal dari target yang ditetapkan.
c. L3;
Level pencapaian minimal dari target yang ditetapkan.
d. L4;
Level pencapaian dalam kisaran sesuai target yang ditetapkan.
e. L5;
Level pencapaian melebihi target yang ditetapkan, berkriteria.
Detail penataan dan rincian Target serta Bobot KPI bagi orang-orang
yang tercantum dalam struktur organisasi toko Timbang Mrono, sebagaimana tertuang dalam Tabel 3 hingga Tabel 13
berikut ini.
Informasi yang tercantum dalam setiap Tabel tersebut, juga
dijabarkan menjadi diagram Balanced
Scorecard sebagaimana tertera pada Gambar 11 hingga Gambar 21.
![]() |
| Tabel 3. Rincian Bobot dan Target KPI Level (n) Milik Si A Sebagai Pemilik. |
![]() |
| Gambar 11. Aliran KPI Level (n) Milik Si A Sebagai Pemilik. |
![]() |
| Tabel 4. Rincian Bobot dan Target KPI Level (n-1) Milik Si B Sebagai Pengelola Keuangan dan Penjualan. |
![]() | |
|
![]() |
| Tabel 7. Rincian Bobot dan Target KPI Level (n-2) Milik Si E Sebagai Petugas Promosi & Penjualan Luring 1. |
![]() |
| Gambar 15. Aliran KPI Level (n-2) Milik Si E Sebagai Petugas Promosi & Penjualan Luring 1. |
![]() |
| Tabel 8. Rincian Bobot dan Target KPI Level (n-2) Milik Si H Sebagai Petugas Kurir Stok Produk. |
![]() |
| Gambar 16. Aliran KPI Level (n-2) Milik Si H Sebagai Petugas Kurir Stok Produk. |
![]() |
| Tabel 9. Rincian Bobot dan Target KPI Level (n-2) Milik Si J Sebagai Petugas Keamanan Sarana/Prasarana. |
![]() |
| Gambar 17. Aliran KPI Level (n-2) Milik Si J Sebagai Petugas Keamanan Sarana/Prasarana. |
![]() |
| Tabel 10. Rincian Bobot dan Target KPI Level (n-3) Milik Si F Sebagai Petugas Promosi & Penjualan Luring 2. |
![]() |
| Gambar 18. Aliran KPI Level (n-3) Milik Si F Sebagai Petugas Promosi & Penjualan Luring 2. |
![]() |
| Tabel 11. Rincian Bobot dan Target KPI Level (n-3) Milik Si G Sebagai Petugas Promosi & Penjualan Luring 3. |
![]() |
| Gambar 19. Aliran KPI Level (n-3) Milik Si G Sebagai Petugas Promosi & Penjualan Luring 3. |
![]() |
| Tabel 12. Rincian Bobot dan Target KPI Level (n-3) Milik Si I Sebagai Petugas Kurir Produk Penjualan Daring. |
![]() |
| Gambar 20. Aliran KPI Level (n-3) Milik Si I Sebagai Petugas Kurir Produk Penjualan Daring. |
![]() |
| Tabel 13. Rincian Bobot dan Target KPI Level (n-3) Milik Si K Sebagai Petugas Kebersihan Dan Kerapihan. |
![]() |
| Gambar 21. Aliran KPI Level (n-3) Milik Si K Sebagai Petugas Kebersihan & Kerapihan. |
Dengan gambaran lengkap tentang diagram empat perspektif
yang mewakili rincian Aliran KPI, maka sebuah Kartu Klop Seimbang, Balanced Scorecard bagi pemilik dan
setiap karyawan toko Timbang Mrono dinyataan
telah terbit!
Balanced
Scorecard yang terbit tersebut, menjadi acuan berkinerja dan
penilaian atas unjuk kinerja yang bakal diraih.
Setiap Balanced Scorecard yang telah terbit, tak hanya mencerminkan unjuk kinerja yang selaras dengan Visi dan Misi, namun juga mewakili kontribusi dari setiap orang dalam struktur organisasi toko Timbang Mrono, yang memberi kontribusi pencapaian kinerja dalam setiap perspektif.

Gambar 22. Bagan Alir Proses Penerbitan Balanced Scorecard.
Tentu, harus dilakukan pemantauan rutin hasil kinerja
secara berkala dalam upaya mencapai target KPI sesuai jadwal yang ditetapkan.
Lembaga atau tim independen yang telah dipercaya dan
terbukti mampu mengelola sistem peningkatan kinerja, bisa menjadi pertimbangan
bagi pemilik usaha untuk memilihnya.
Tugas tim independen tersebut
tak hanya memantau pencapaian kinerja orang per orang dari suatu organisasi
usaha. Namun juga melakukan evaluasi terkait dengan benefit yang bakal diberikan kepada setiap orang dalam organisasi
tersebut, secara adil, berimbang, sesuai dengan capaian skor kinerja masing-masing,
yang terbukti dan tercatat.
“Apabila suatu struktur organisasi sudah meluas dan banyak orang tercantum di dalamnya, maka penilaian Umpan Balik 360 bisa dilakukan oleh sebagian orang yang mewakili atasan, bawahan dan sejawat, yang mengenal orang yang akan dinilai.”
Menilai
Umpan Balik 360
Mendampingi penilaian kuantitatif terhadap pencapaian
kinerja, juga didampingi dengan penilaian kualitatif secara sosiometri,
terhadap semua orang yang tercantum dalam struktur organisasi.
Setiap orang bakal mendapat penilaian sosiometri baik oleh
Atasan (Supervisor), Bawahan (Subordinate) maupun Sejawat (Peer), baik dalam garis organisasi yang
sama maupun berbeda. Orang yang dinilai pun punya kesempatan yang sama untuk
menilai orang-orang lain dalam organisasi, apakah Atasan, Bawahan, juga
Sejawat.
Apabila suatu struktur organisasi sudah meluas dan banyak
orang tercantum di dalamnya, maka penilaian Umpan Balik 360 bisa dilakukan oleh
sebagian orang yang mewakili atasan, bawahan dan sejawat, yang mengenal orang
yang akan dinilai.
Adapun variabel penilaian, berupa tanggapan atas
pertanyaan-pertanyaan yang mewakili bagaimana orang yang dinilai telah
mengejawantahkan Visi dan Misi organisasi.
Sebagai contoh dalam hal ini adalah toko Timbang Mrono, maka pertanyaan
kualitatif sosiometri mencakup hal-hal berikut ini;
1. Bagaimana
sikap melayani pelanggan?
2. Bagaimana
sikap terhadap lingkungan sekitar?
3. Bagaimana
respon terhadap keamanan sarana/prasarana, kebersihan dan kerapihan toko?
4. Bagaimana
respon kreatif yang bersangkutan terhadap produk baru yang harus segera
dipajang?
5. Bagaimana
penilaian tentang integritas yang bersangkutan, meliputi;
a. Kejujuran?
b. Ketelitian?
c. Kesigapan?
d. Ketelatenan?
6. Bagaimana
pemahaman penggunaan sistem database penjualan
ataupun stok produk?
7. Bagaimana
pemahaman penggunaan sistem pengelolaan keuangan dan kasir?
8. Bagaimana
penerapan aktifitas yang mendukung Protokol Kesehatan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi dokumen tersendiri,
bernama Form Umpan Balik 360, yang disebar untuk dinilai secara sosiometri,
sebagaimana Tabel 14 berikut ini.

Tabel 14a. Contoh Form Umpan Balik 360 Seorang Petugas Toko Timbang Mrono Memiliki Skor Rata-Rata Umpan Balik 360 Sebesar: 37.25 Hasil Penilaian Sosiometri Oleh Subordinate, Supervisor dan Peer.
![]() |
| Tabel 14b. Contoh Form Umpan Balik 360 Seorang Petugas Toko Timbang Mrono Memiliki Skor Rata-Rata Umpan Balik 360 Sebesar: 37.25 Hasil Penilaian Sosiometri Oleh Subordinate, Supervisor dan Peer. |
Penilaian kualitatif Umpan Balik 360 kemudian ditetapkan
secara kuantitatif berskala 5 (lima) yang merupakan deretan angka mewakili
kriteria penilaian, berturut-turut mulai Gagal (1), Kurang (2), Cukup (3), Baik
(4) dan Unggul (5).
Kemudian angka Skor penilaian Umpan Balik 360, merupakan
rata-rata hasil penilaian tiap orang yang berbeda, mewakili Atasan, Bawahan dan
Sejawat.
Sebagai contoh pada Tabel 14, maka Si D yang memiliki
fungsi sebagai petugas promosi dan penjualan produk secara daring, telah mendapat
penilaian Umpan Balik 360 dengan skor rata-rata sebesar 37.25.
Angka tersebut selanjutnya
menjadi pendamping angka hasil penilaian pencapaian target-target program
kerja, sebagaimana ditetapkan dalam KPI, yang terbit sebagai Balanced Scorecard.
“Kegiatan Coach and Counseling, memberi kesempatan bagi setiap pemilik KPI untuk menyampaikan pendapat dan mendapat saran, dalam menghadapi tantangan pemenuhan target dan menyemangati untuk mencapai keberhasilan.”
Menilai
KPI
Sesuai dengan nama Indikator Kinerja Utama, maka menilai
KPI harus beserta bukti-bukti pemenuhan target.
Apabila dalam Umpan 360 masih mengakomodasi penilaian
subyektif, maka dalam KPI menilai secara obyektif lebih diutamakan.
Skala nilai dalam KPI juga sama dengan Umpan Balik 360,
yakni menggunakan Skala 5 (lima), terhadap Level-Level target yang telah
dicapai, beserta bukti-bukti yang mendukung.
Dengan demikian, urutan kriteria nilai pada Level-Level target dalam KPI adalah sebagai berikut;
- Dibawah L2 (<L2), mendapat nilai 1 (satu), dengan kriteria ‘Gagal’.
- L2; Level pencapaian minimal dari target yang ditetapkan, mendapat nilai 2 (dua) dengan kriteria ‘Kurang’.
- L3; Level pencapaian minimal dari target yang ditetapkan, mendapat nilai 3 (tiga) dengan kriteria ‘Cukup’.
- L4; Level pencapaian dalam kisaran sesuai target yang ditetapkan, mendapat nilai 4 (empat) dengan kriteria ‘Baik’.
- L5; Level pencapaian melebih target yang ditetapkan, mendapat nilai 5 (lima) dengan kriteria ‘Unggul’.
Sebagai contoh, penilaian tengah tahun atas pemenuhan KPI
yang telah terbit sebagai Balanced
Scorecard milik Si A sebagai Pemilik toko Timbang Mrono, sebagaimana tertuang pada Tabel 15 beserta contoh
bukti pemenuhan dalam Gambar 23 dan Gambar 24 berikut ini.
![]() |
| Tabel 15. Contoh Penilaian Pencapaian Hingga Tengah Tahun Terhadap KPI Milik Si A, Sebagai Pemilik Toko Timbang Mrono. |
![]() |
Gambar 23. Contoh Bukti Pemenuhan KPI No. 5 Susun Strategic Map.
|
Gambar 24. Contoh Bukti Pemenuhan KPI No. 40. Bangun/Beli Toko Baru (Milestone 3 Tahun). (KPI Milik Si A Sebagai Pemilik toko Timbang Mrono.) |
Kegiatan
tengah tahun dalam hal pelaporan data dan bukti penilaian KPI, menjadi momen
yang tepat bagi Pemilik toko Timbang Mrono
untuk melakukan Coach and Counseling
kepada semua karyawan.
Kegiatan Coach and Counseling, memberi kesempatan bagi setiap pemilik KPI untuk menyampaikan pendapat dan mendapat saran, dalam menghadapi tantangan pemenuhan target dan menyemangati untuk mencapai keberhasilan. Pada kegiatan tersebut, juga dilakukan evaluasi terhadap kinerja tim toko Timbang Mrono mengacu pada Balanced Scorecard yang telah diterbitkan.
Dalam kondisi sangat mendesak, seperti karena terjadi force majeure, maka bisa dilakukan koreksi atas KPI yang telah ditetapkan. Tentu, dengan tetap mempertimbangkan Aliran KPI yang telah tertata mulai dari level pucuk pimpinan hingga pelaksana paling dasar dalam struktur organisasi.
Gambar 25. Suasana Pagi Hari di Dalam Toko Timbang Mrono Memulai Kinerja Melayani Kebutuhan Pelanggan.
Pada kondisi normal, maka komitmen menerapkan Balanced Scorecard hingga terbukti semua target dalam KPI bisa dipenuhi pada akhir tahun, tetap dilakukan. Hingga, waktu berkinerja pun mencapai akhir tahun. Saat yang dinanti untuk melakukan penilaian unjuk kinerja lengkap setahun, dari setiap orang dalam struktur organisasi toko Timbang Mrono.

Gambar 25. Bagan Alir Penilaian KPI dan Umpan Balik 360 Semesteran Menuju Proses Moderasi Insentif.
Tak
hanya menilai unjuk kinerja, penilaian akhir tahun juga menjadi momen untuk
menghitung laba pencapaian usaha, yang sebagian dibagikan kepada semua karyawan
toko Timbang Mrono sebagai insentif
atas kinerja yang terbukti tercapai.
“Menjamin perhitungan Insentif menggunakan metode yang bisa dipertanggungjawabkan pun menjadi penting, agar kepercayaan setiap orang dalam organisasi tempat usaha tetap terjaga.”
Moderasi Insentif
Setelah kinerja dari orang-orang yang tercantum dalam suatu organisasi telah terpotret lengkap tak hanya kualitatif namun juga kuantitatif, maka proses selanjutnya adalah tahap yang paling dinanti, tak hanya oleh pengelola tempat usaha namun juga semua jajaran yang berkinerja di dalamnya.
In-sen-tif, berwujud tiga suku kata dengan berjuta penantian.
Betapa sebagai satu kata, Insentif menjadi ujung penantian atas hasil kinerja selama setahun dari setiap orang yang telah berkomitmen dalam wujud kartu skor yang disandangnya.
Menanti
Insentif, tak hanya menanti pengakuan prestasi dalam arti yang nyata. Sebuah
penghargaan tak hanya berupa selembar kertas sertifikat dan jabat tangan
semata. Namun, juga berupa kertas sah berharga sebagai alat transaksi jual
beli, memiliki nilai nominal. Kertas itu bernama uang.
Apabila Insentif bisa dibagi secara adil dan terukur, maka kepuasan kalangan stakeholder internal akan muncul. Karena jerih payahnya untuk berkinerja sebaik mungkin, mendapat penghargaan. Kemudian mereka bakal bekerja lebih giat, berkinerja lebih optimal pada masa-masa mendatang.
Tempat usaha yang sinambung tumbuh dan berkembang pun turut menuai kepercayaan para stakeholder eksternal. Setiap tempat usaha yang punya kebijakan membagi Insentif, memiliki tata cara masing-masing dalam menghitung sebagian keuntungan bersih hasil usaha yang diraih selama setahun.
Menjamin perhitungan Insentif menggunakan metode yang bisa dipertanggungjawabkan pun menjadi penting, agar kepercayaan setiap orang dalam organisasi tempat usaha tetap terjaga. Sehingga tempat usaha bisa tetap fokus dalam upaya meraih tujuan, sesuai Visi dan Misi yang ditetapkan.
Berikut adalah simulasi penerapan metode menghitung Insentif pada toko Timbang Mrono dalam bentuk Moderasi melalui tahapan-tahapan yang berdasar pada penerapan kaidah Distribusi Normal. Pertimbangan utama atas pilihan metode tersebut adalah sebagai kelanjutan hasil proses penilaian KPI dan Umpan Balik 360, dimana nilai-nilai kuantitatif yang terkumpul akan diuji, sebelum ditetapkan menjadi konstanta-konstanta rumusan penghitung Insentif.
Dalam metode yang menggunakan kaidah Distribusi Normal berikut ini, maka terdapat 5 (lima) tahapan dalam melakukan Moderasi penentuan Insentif, yaitu;
Tahap 1. Pengelompokan Data

Tabel 16. Tahap 1 Proses Moderasi Penentuan Insentif = Pengelompokan Data
Tabel 16 merupakan hasil proses pencatatan Skala 5 (lima) terhadap KPI dan Umpan Balik 360 pada dua semester selama tahun 2021, atas semua orang yang tercantum dalam struktur organisasi toko Timbang Mrono.
Pada Tabel tersebut juga ditetapkan, bahwa data-data KPI sebagai Variabel Independen (Predictor). Sementara data-data Umpan Balik sebagai Variabel Dependen.
Pemilihan KPI sebagai Predictor dengan pertimbangan sebagai sekumpulan data hasil penilaian obyektif.
Tahap 2. Uji Hipotesa

Tabel 17a. Tahap 2 Proses Moderasi Insentif = Menguji Hipotesa.
Tabel
17a dan 17b, merupakan pengujian Hipotesa tentang apakah antara data-data KPI
dan Umpan Balik 360 saling memengaruhi, serta KPI mempunyai pengaruh terhadap
Umpan Balik 360.

Tabel 17b. Tahap 2 Proses Moderasi Penentuan Insentif = Menguji Hipotesa.
Dalam menguji Hipotesa pada simulasi ini, maka tingkat kepercayaan yang ditetapkan sebagai batas sebaran normal nilai-nilai unjuk kinerja adalah sebesar 95%, yang memiliki tingkat signifikan sebesar 5% (α = 0.05) sebagai tolok ukur uji.
Apabila melalui uji F dan uji t pada tingkat kepercayaan 95% atau α = 0.05, Hipotesa Null (H0) ditolak, maka kedua Hipotesa tersebut terbukti benar.
Pada tahap pengujian tersebut, maka Hipotesa tentang penilaian terhadap orang-orang dalam struktur organisasi toko Timbang Mrono yang menghasilkan data-data nilai KPI dan Umpan Balik 360 yang saling memengaruhi, adalah terbukti.
Demikian halnya, hasil penilaian Umpan Balik 360 terbukti dipengaruhi oleh KPI.
Pada tahapan berikutnya, maka Hipotesa yang terbukti tersebut menjadi dasar pemilihan dua Variance baik KPI maupun Umpan Balik 360 sebagai Konstanta-Konstanta dalam rumusan perhitungan Insentif.
Apabila terdapat salah satu H0 yang diterima, apakah KPI ataukah Umpan Balik 360, maka hanya satu Konstanta saja, yakni parameter dengan HAlternatif diterima, yang digunakan sebagai rumusan memoderasi Insentif.
Sedangkan apabila baik data-data KPI maupun Umpan Balik 360 terbukti H0 yang diterima, maka menjadi indikasi awal bahwa unjuk kinerja orang-orang dalam organisasi tersebut tak memenuhi kriteria berkinerja meraih keunggulan.
Selain itu, diterimanya H0 mengindikasikan pula, bahwa antara KPI dan Umpan Balik 360 tak saling memengaruhi. Juga, KPI yang menjadi Predictor juga tak terbukti memengaruhi Umpan Balik 360. Sehingga, terdapat petunjuk sebagai penyebabnya, apakah terdapat kinerja yang tak optimal ataukah pengisian data penilaian dilakukan sembarangan.
Tahap 3. Penetapan Skor

Tabel 18. Tahap 3 Proses Moderasi Insentif = Penetapan Skor.
Penetapan Skor dilakukan dengan menyusun interval akumulasi data-data kuantitatif KPI dan Umpan Balik 360 pada semester I dan semester II tahun 2021.
Tahap
4. Z-Score Bobot KPI + Umpan Balik
360.

Tabel 19. Tahap 4 Proses Moderasi Insentif = Penentuan Z-Score Pembobotan KPI + Umpan Balik 360. Koefisien Korelasi dalam Regresi Unjuk Kinerja Ditemukan Bernilai 1 (Satu).
Penetapan Z-Score diperlukan guna mendapat konfirmasi tentang sebaran data akumulasi nilai-nilai kinerja yang telah terbobot dari setiap orang dalam organisasi toko Timbang Mrono.
Sebaran nilai kinerja yang mewakili baik KPI maupun Uman Balik 360 dalam satu populasi organisasi tersebut, menjadi pemastian untuk menentukan siapa saja yang memiliki Kriteria kinerja mulai dari Sangat Buruk, Buruk, Cukup, Baik hingga Sangat Baik.
Terdapat 1 (satu) orang karyawan toko Timbang Mrono yang memiliki kriteria relatif sangat buruk, yait u Si I, petugas Kurir penjualan produk Daring. Nilai akumulasi KPI dan Umpan Balik 360 yang dimiliki pada tahapan selanjutnya memengaruhi besaran insentif yang bakal diterima.
Tak hanya memengaruhi Insentif, maka kriteria paling rendah tersebut, perlu diimbangi dengan upaya untuk meningkatkan kinerja yang bersangkutan, dengan menjalankan kegiatan coaching & counseling yang rutin.
Adapun
keputusan untuk tak melibatkan lagi Si I menjadi bagian tim kerja toko Timbang
Mrono, adalah pilihan terakhir, jika upaya perbaikan kinerja tak dilakukan oleh
Si I, dalam beberapa kesempatan pada waktu mendatang.

Gambar 26. Diagram Z-Score Kinerja Orang-Orang Dalam Organisasi Toko Timbang Mrono.
Sebagaimana bentuk diagram Z-Score Gambar 26, maka didapat konfirmasi terdapat 1 (satu) orang dalam organisasi toko Timbang Mrono yang memiliki unjuk kinerja relatif sangat buruk, karena keluar dari batas simpangan baku (standard deviation) pada tingkat kepercayaan 95%, yang menjadi batas sebaran normal nilai-nilai unjuk kinerja yang ditetapkan.
Kriteria yang sebanding dengan nilai Skor hasil penetapan Z-Score tersebut menjadi variabel dalam rumusan Moderasi penentuan Insentif pada tahap akhir.
Tak
hanya berguna menjadi pemastian sebaran normal akumulasi nilai-nilai unjuk
kinerja, maka hasil Z-Score yang
didapat juga menjadi masukan penting atas telaahan terhadap seberapa jauh
data-data yang terolah, berada dalam rentang kurva Distribusi Normal (Gaussiean Curve).

Gambar 27. Kurva Distribusi Normal Hasil Kinerja Setahun dari Orang-Orang Dalam Toko Timbang Mrono.
Pada Gambar 27, maka diperoleh konfirmasi bahwa kurva sebaran nilai unjuk kinerja orang-orang dalam organisasi toko Timbang Mrono membentuk pola sebaran Distribusi Normal yang masih dominan berada pada sisi wilayah wilayah simpangan baku minus.
Sebaran yang demikian, menunjukkan perlu dilakukan perbaikan pada masa mendatang perihal mengupayakan keselarasan Aliran KPI antar pemilik ranah kinerja, mulai dari level manajemen puncak, dengan kode n, hingga jajaran mendasar berkode n kesekian, baik dalam hal penilaian maupun keteladanan berkinerja.
Sehingga, bentuk sebaran hasil pengolahan data yang riil, bakal lebih mendekati, masuk ke dalam cakupan kurva Distribusi Normal.
Tahap 5. Menghitung Insentif
Masuk tahapan terakhir dalam proses Moderasi Penentuan Insentif, maka temuan-temuan hasil pengolahan data melalui pendekatan Distribusi Normal pada 4 (empat) tahapan sebelumnya, menjadi variabel dan konstanta-konstanta penting sebagai rumusan menghitung insentif.
Adapun satuan nilai mata uang, yang dalam simulasi menentukan Insentif bagi orang-orang yang tercantum dalam organisasi toko Timbang Mrono adalah Rupiah, maka nilai faktor agar rumusan menghitung insentif menghasilkan satuan mata uang tersebut adalah; rasio Gaji Pokok dengan Indeks Kumulatifnya.
Indeks Kumulatif (IK) ditetapkan melalui pertimbangan berupa fakta bahwa secara bertahap dalam kurun 3 (tiga) tahun terakhir, pemilik toko Timbang Mrono telah berhasil menaikkan gaji karyawannya, masing-masing hingga 50%.
Dalam mengelola bisnis, maka pemilik toko Timbang Mrono memiliki misi untuk mengupayakan kenaikan gaji pokok bagi para karyawannya hingga 50% pula, pada 3 tahun mendatang.
Dengan demikian, angka penyebut pada rasio Gaji Pokok : IK adalah; (1 + 0.5) dengan rincian;
[(1 * Gaji Pokok saat ini + (0.5 * Gaji Pokok saat ini)]
Nilai rasio tersebut ditemukan sebesar; 0.67.
Sementara itu, terdapat 1 (satu) variabel dan 2 (dua) konstanta yang ditetapkan sebagai faktor pengali Rasio Gaji tersebut di atas, yaitu;
- Skor (KPI + Umpan Balik 360), berkisar nilai 1 – 5 yang mewakili Kriteria mulai Sangat Buruk hingga Sangat Baik.
- Variance KPI, berupa angka sebesar 8.61.
- Variance Umpan Balik 360,
berupa angka sebesar 2.45.
Rincian data yang berisikan nilai-nilai variabel dan angka konstanta untuk merumuskan besaran Insentif bagi orang-orang dalam organisasi toko Timbang Mrono, sebagaimana tertuang dalam Tabel 20a, berikut ini.
![]() |
| Tabel 20a. Tahap 5 Proses Moderasi Insentif = Menghitung Insentif. |
Kemudian, gabungan antara variabel, rasio gaji dan kedua konstanta tersebut menjadi faktor pengali dalam bentuk persen (%), terhadap besaran gaji pokok masing-masing orang dalam organisasi toko Timbang Mrono.
Dengan demikian, rumus besaran insentif (%I) adalah sebagai berikut;
Mempertimbangkan prediksi bahwa hingga akhir tahun 2021 akan membukukan laba bersih usaha, minimal sebesar Rp. 85 Juta, maka pemilik toko Timbang Mrono berani untuk memberikan tambahan rumus besaran insentif tersebut, berupa Kebijakan Majemen. Yaitu,Pemilik toko Timbang Mrono mengijinkan untuk memotong 50% besaran insentif yang diterimanya, untuk dibagi rata kepada semua karyawan.

Tabel 20b. Tahap 5 Proses Moderasi Insentif = Menghitung Insentif. Tabel Berisi Rincian Besaran Insentif yang Diterima.
Dalam Tabel 20b tersebut, terdapat kenaikan gaji pokok setelah mendapat tambahan besaran Insentif dan Kebijakan Manajemen, berkisar mulai 23% hingga 78%, dengan nilai total mendekati nilai Rp. 45,5 Juta.
Dengan demikian, apabila pada akhir tahun 2021 laba usaha bersih yang didapat oleh pemilik toko Timbang Mrono adalah angka minimal sebesar Rp. 85 Juta, maka masih ada sisa hampir separuh dari pengeluaran Insentif dan Gaji Pokok karyawan, setiap akhir tahunan.
Sisa keuntungan bersih tersebut pun lalu menjadi modal tambahan perputaran usaha pada tahun 2022. Termasuk memperbaharui Aliran KPI sebagai ukuran kinerja pada tahun mendatang, dalam upaya meraih target-target yang bersifat jangka pendek, menengah maupun milestone.
Terdapatnya rentang kisaran %-tase kenaikan besaran Insentif tersebut terjadi, setelah melalui 5 (lima) tahapan Moderasi Penentuan Insentif yang berdasar kaidah Distribusi Normal. Akumulasi hasil penilaian yang fair, baik secara obyektif (KPI) maupun subyektif (Umpan Balik 360), menjadi faktor utama adanya kisaran %-tase tersebut.
'Mudah Boss, Ini'
Agar
mudah ingat dan berminat untuk mempelajari ulang, maka kelima tahap proses
Moderasi penentuan Insentif dapat disusun secara sederhana menjadi bagan alir
sebagaimana berikut;

Gambar 28. Bagan Alir Moderasi Penentuan Insentif.
Bagan
alir tersebut juga masih bisa menjadi lebih sederhana sebagai kalimat kunci
yang mudah ingat, yaitu; Mulai, Data, Hipotesa, Bobot Skor, Z-Score, Insentif, Selesai, yang disingkat menjadi;
‘Mudah Boss, Ini’
“... menarik untuk dikembangkan menjadi suatu sistem informasi daring terintegrasi yang menampung skema penerapan metode Balanced Scorecard dan kaidah Distribusi Normal.”
Risalah Tulisan
Uraian panjang tentang pengelolaan kinerja mulai dari menata Visi dan Misi, kemudian menjabarkannya menjadi Aliran KPI hingga terbit menjadi sebuah Kartu Klop Seimbang, Balanced ScoreCard, adalah upaya untuk mengelola organisasi, baik profit maupun non profit, agar berkinerja efektif, terukur dan mampu menambah tingkat kepercayaan para pemangku kepentingan.
Simulasi sebuah toko bernama Timbang Mrono, adalah satu contoh sederhana bagaimana menerapkan pengelolaan kinerja efektif mengacu metode Balanced Scorecard, yang dipadu dengan tahapan menggunakan pendekatan kaidah Distribusi Normal, untuk menghitung Insentif sebagai penghargaan bagi tercapainya tujuan, buah dari kinerja yang terukur.
Tentu, penataan Balanced Scorecard dan penggunaan kaidah Distribusi Normal untuk organisasi yang lebih besar, bakal menjadi lebih kompleks. Sejalan dengan Visi dan Misi yang lebih luas, struktur organisasi yang tak lagi ramping, stakeholder yang lebih beragam, proses bisnis yang lebih berlapis dan jumlah karyawan dengan tugas dan kewenangan yang lebih banyak.
Contoh sederhana pengelolaan kinerja toko Timbang Mrono, menarik untuk dikembangkan menjadi suatu sistem informasi daring terintegrasi yang menampung skema penerapan metode Balanced Scorecard dan kaidah Distribusi Normal.
Agar pengelolaan kinerja, khususnya oleh suatu organisasi yang berorientasi pada pencapaian usaha, bersaing dan bertumbuh kembang, menjadi lebih terbantu dalam menata dan menerapkan metode dan kaidah tersebut, secara rutin dan sistematis.
Semoga ulasan ini bisa memicu daya kreasi generasi muda milenial, yang berminat serta memiliki kompetensi dalam bidang pengembangan sistem dan teknologi informasi. Lalu, menjalin kolaborasi dengan kolega yang memahami dan memiliki pengalaman dalam mengelola kinerja suatu organisasi.
Bekerjasama untuk menghasilkan suatu aplikasi unik dan praktis dalam mengelola unjuk kinerja, kapan saja dan di mana saja, melalui akses satu gawai. Suatu aplikasi daring yang menebar banyak manfaat, khususnya bagi pelaku usaha, agar bisa lebih meningkatkan pertumbuhan ekonomi.
Pelaku usaha tersebut, terutama adalah yang bergerak disektor riil. Usaha mikro kecil menengah, UMKM, di negeri ini.
Semoga Menginspirasi.
Perihal penginspirasi tulisan;
1. Bahan bacaan;
- Robert S. Kaplan and David P. Norton, 1992, The Balanced Scorecard-Measures that Drive Performance, Harvard Business Review, From the January-February 1992, issue.
- De Waal, Andre et. al, 2009, Strategic Performance Management and Creative Industry, International Journal of Foresight and Innovation Policy, researchgate.net.
- Parmenter, David, 2015, Key Performance Indicators Developing, Implementing, and Using Winning KPI’s, Wiley Third Edition.
2. Pengalaman
Penulis sebagai Profesional KPI bersertifikat The KPI Institute, menjadi bagian pengelola kinerja salah satu
perusahaan tambang batu bara terkemuka di Indonesia.
3. Pengalaman Penulis sebagai penasehat pengelolaan kinerja sebuah tempat usaha UMKM, setara toko Timbang Mrono dalam tulisan ini.
Telaga Asih, 8 Desember 2021







































Komentar
Posting Komentar