Dengung Sejarah

 “...dunia pun terkecamuk oleh kobaran api perang...”

Tanggal ini, 83 tahun lalu, hari Minggu pagi, 7 Desember 1941, satu pangkalan angkatan laut Amerika Serikat di samudera Pasifik, tanpa disangka-sangka tetiba diserang oleh sekawanan pesawat udara angkatan perang kekaisaran Jepang.

“Hari Kekejian!” Demikian ungkap Franklin D. Roosevelt, sang presiden ke-32 Amerika Serikat, dalam pidatonya yang terkenal; “Day of Infamy!”

Sang presiden bereaksi mengutuk aksi penyerangan Pearl Harbor, lalu mendeklarasikan perang melawan Jepang. Satu keputusan luar biasa, dari sebelumnya Amerika Serikat tak bergeming menanggapi ajakan untuk ikut terlibat dalam kobaran perang  Eropa yang terjadi setahun sebelumnya.

Serangan Pearl Harbor 7 Desember 1941. Sumber: ushistoryscene

Lantas, dunia pun terkecamuk oleh kobaran api perang, tenggelam dalam mimpi buruk selama lima tahunan, sebagai Perang Dunia ke-2.

Satu perang global yang tak pernah diharapkan setelah hampir 30-an tahun sebelumnya dunia tengah menikmati masa damai pasca kobaran Perang Dunia Pertama, kisaran tahun 1914 hingga 1918 di wilayah Eropa, yang lalu dunia berharap sebagai perang besar yang mengakhiri segala perang.

Kapok? Oh tidak, manusia dengan beragam alasan, selalu terulang tabiat berperang. Bagai kecanduan menikmati mimpi buruk sesekali, justru sebagai penghias mimpi-mimpi indah.

 

“...kesempatan emas untuk mengundi nasib...”

Kelak terbukti, serangan Jepang atas Pearl Harbor adalah membangunkan raksasa yang tengah terlelap tidur.

Kehadiran Amerika Serikat menambah seru perang dunia kedua, yang keterlibatannya terbagi dua, yang mana kekuatan angkatan laut beserta pasukan Marinir melayani kampanye perang pasifik.

Sementara itu, kekuatan angkatan darat beserta pasukan Ranger dan Lintas Udara, menyasar perang Eropa, yang diawali oleh serangan atas pantai Normandia, 6 Juni 1944 dalam satu operasi militer terbesar sepanjang sejarah bersandi; Overlord.

Sekaligus, keterlibatan Amerika Serikat dalam perang dunia kedua yang terpicu oleh Hari Keji di Pearl Harbor, hingga kini menumbuhkan banyak pertanyaan yang berujung pada suatu kesengajaan yang tertutupi.

Agar, pihak kekaisaran Jepang terprovokasi, hingga tetiba menumbuhkan semangat kebangsaan rakyat Amerika Serikat yang baru pulih ekonomi mereka setelah depresi besar akhir tahun 1930-an.

Wakil rakyat, para politisi Amerika Serikat pun menyetujui agar kekuatan militer pun bergerak melakukan kampanye Pasifik dan Eropa selama perang dunia kedua. Memang, tentara tiada pernah memulai perang, melainkan politisi atas nama suatu kebijakan.

Betapa, masih terselimuti misteri, hingga belum terakui oleh narasi sejarah, bahwasanya keterlibatan Amerika Serikat dalam perang besar seperti itu adalah kesempatan emas untuk mengundi nasib bangkit dari keterpurukan ekonomi.

Lima tahunan kemudian, patut diakui, semangat juang, harga diri bangsa, peran ilmu pengetahuan dan teknologi serta keyakinan bahwa jalan sejarah berpihak pada mereka, maka Amerika Serikat, yang bagian dari kekuatan Sekutu telah memenangkan perang.


“...Indonesia pun merdeka de facto...”

Lalu, kehadiran dua kali perang besar pada abad ke-20, telah membawa perubahan besar terhadap dunia.

Banyak bangsa yang meninggali kawasan negeri-negeri, memerdekakan diri terpisah dari kekuatan pendudukan, kekuatan kolonial, yang ratusan tahun menguasai wilayah mereka, menindas bangsa yang telah meninggali wilayah itu jauh-jauh hari sebelum para kolonialis itu tiba.

Termasuk, kawasan Hindia Belanda yang atas kesempatan masa-masa tiada pemerintahan militer Jelang yang kalah perang, membuat situasi status quo atas wilayah yang luas dan besar, kaya raya, maka pada 17 Agustus 1945, Sukarno-Hatta atas nama bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.

Indonesia pun merdeka de facto.

Tersiar kabar mendunia bahwa telah ada negara baru bernama Indonesia di kawasan Asia Tenggara yang dulunya dikenal sebagai kawasan Hindia Timur, Hindia Belanda.

 

“...yang berderit pelan menuai dengung resonansi...”

Terbatas, mulai dari Hari Kekejian lalu merambat menjadi Hari Kemerdekaan Indonesia, adalah satu jalan sejarah, laku hidup bagi manusia yang tiba-tiba tergurat tiada disangka-sangka, seiring waktu yang berdetak.

Jalan sejarah yang telah menjadi konstanta, mutlak tanpa bisa terubah, bagai guratan pelan-pelan atas segelas air putih yang berderit pelan menuai dengung resonansi berbentuk suara nan nyaring.

Waktu memang seolah diam. Namun, detaknya selalu menurunkan guratan garis-garis sejarah, yang tiada disangka, tiba-tiba saja ada, bagai keberadaan dengung resonansi suara.

Guratan memutar jari basah  di atas bibir gelas berisi air bisa menimbulkan dengung resonansi suara 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rhesus yang Pembeda

Alam Semesta Dalam KeAgunganNya

Missing Link Terjadi di Bulan(?)