Sabun apa Deterjen?
“...sangatlah keji lantaran bakal memisah...”
Jadi sebenernya, jika memahami ilmu Kimia, kita-kita ini bisa membedakan apa itu Sabun, apa itu Deterjen.
Sabun, itu struktur kimianya gabungan antara asam lemak dengan alkalin apakah Sodium ataupun Kalium.
Sementara Deterjen, struktur kimianya ada dua bagian, yakni hidrokarbon rantai panjang pada bagian ‘ekor’ yang sifatnya tak suka air (hidrofobia) dan gugus aromatik Sodium Sulfonat pada bagian ‘kepala’ yang suka sama air (hidrofeel).
Feel itu merasa, jadi hidrofeel itu ada rasa cinta sama hidro, air.
Lha kalo Youfeel? ... Ya ada perasaan sama kamu, lah. Ciie.
Oke Guys, lanjut.
Jadi karena Deterjen itu punya dua bagian struktur yang bersifat ‘tak suka’ dan ‘suka’ sama air, maka dalam hal tugas yang diemban untuk mencuci kotoran pada pakaian, terutama, bakal lebih efektif ketimbang Sabun.
Ibaratnya, kehadiran Deterjen sangatlah keji lantaran bakal memisah antara air dengan kotoran. Soalnya, bagian ekor yang hidrofobia, yang gak suka sama air bakal mengangkat kotoran yang melekat pada kain. Lalu, bagian kepala yang hidrofeel, suka sama air, bakal melarutkan kotoran-kotoran itu.
Oleh karenanya, merendam kain kotor dalam larutan Deterjen, maka seiring waktu air cucian bakal keruh, akibat kotoran-kotoran yang terangkat dari kain.
“...saling larut dalam kebahagiaan tiada tara...”
Sementara Sabun, meski sama-sama punya gugus hidrofobia pada bagian asam lemak dan hidrofeel pada bagian alkalin, namun cara mengangkat kotoran ala Sabun adalah membuat dua bahan yang tak bisa saling larut, seperti air dan minyak, menjadi bisa bercampur untuk sementara, membentuk suatu fasa Emulsi berupa koloid minyak dan air.
Proses ini yang demikian, dinamakan; Emulsifikasi.
Apa? Apaa?
Emulisififisikasi? ... Halah
Emulusesififi? ... Haiyah!
Emulsisukaesih? ... Harah kon!
Elusukamulusih? ... Aih mak jang!
E-mul-si-fi-ka-si.
Berkat proses Emulufulusikasi inilah, maka kehadiran Sabun ibaratnya menjadi mak comblang, bagi air dan minyak. Sehingga, keduanya pun berkenan untuk saling mengenal lalu bercampur, saling larut dalam kebahagiaan tiada tara.
Dengan demikian, penggunaan Sabun yang mengandung rantai hidrofobia berupa asam lemak dan unsur alkalin sebagai hidrofeel, bakal lebih aman bagi kulit manusia. Karena, pengangkatan dan pembersihan kotoran, terutama minyak dan lemak yang menempel di badan, secara moderat.
Berbeda dengan cara mengangkat kotoran ala Deterjen, yang radikal, karena keberadaan hidrokarbon rantai panjang sebagai hidrofobia dan gugus aromatik sulfonat alkalis sebagai hidrofeel, membuat Deterjen lebih agresif dan radikal dalam membersihkan kotoran.
“...terbuat dari isolasi bahan-bahan alami...”
Lalu, akankah kita akan merasa nyaman mandi membersihkan kotoran dengan Deterjen? Oh! Tentu tidak. Karena, bakal terasa panas bersensasi gatal-gatal tak nyaman seluruh anggauta badan kita.
Kita mandi, ya gunakan air dan Sabun, yang kandungan asam lemaknya terbuat dari isolasi bahan-bahan alami seperti flora, tumbuhan.
Sedangkan Deterjen, meski lebih efektif mengangkat kotoran yang melekat pada suatu benda seperti pakaian, piring, namun Deterjen terbuat dari bahan-bahan kimiawi sintetis.
Juga, Deterjen mengandung senyawaan Surfaktan sintetis bernama Linear Alkyl Sulfonate (LAS), yang bisa menimbulkan sensasi busa melimpah ruah, namun bisa menjadi polutan bagi lingkungan.
“...mengapa harus tetap mencantumkan kata Sabun...?”
Terus, pagi ini saya menemukan satu produk berupa krim bahan pencuci dan pemutih pakaian, dengan sebutan; ‘Sabun Cream’ terpampang pada kemasannya. Dalam hati Penulis pun bertanya-tanya perihal penyebutan kata ‘Sabun’ pada produk ini.
- Bukankah Sabun dengan proses Emululusikafi, bakal menghasilkan cara mencuci yang moderat terhadap pakaian dibanding Deterjen?
- Apakah tidak sayang jika produk Sabun yang kandungan kimiawinya menyasar dan cocok bagi kulit (manusia), menjadi bahan pencuci pakaian, juga piring dan mobil motor?
- Adapun untuk menyasar kotoran melekat pada pakaian, yang efektif pencuciannya jika menggunakan Deterjen, mengapa harus tetap mencantumkan kata Sabun (Cream), apabila ternyata bahan kandungan produk krim tersebut adalah Deterjen?
Penulis pun lalu menduga bahwa sejatinya produk bahan krim pencuci ini bukanlah Sabun, melainkan Deterjen.
Hal yang sama untuk produk pencuci yang dulu sering disebut ‘Sabun Colek’ itu adalah Deterjen dalam bentuk krim, sebagaimana pembuatannya yang telah sah diakui sebagai Standar Nasional Indonesia, SNI 0062:2016.
![]() |
Sebutan 'Sabun Cream' pada kemasan bahan pencuci pakaian |
“...adalah sebagai mediator, juru damai malah...”
Memang, dalam kemasan varian lain produk krim pencuci tersebut terdapat slogan yang bisa menarik bagi calon pengguna, yakni; “Lembut di Tangan.”
Suatu slogan yang menunjukkan bahwa, bahan pencuci tersebut berkualitas selayaknya Sabun yang ramah bagi kulit manusia, sekaligus membangun mindset bahwa produk krim pencuci tersebut adalah Sabun, bukan Deterjen.
![]() |
Slogan 'Lembut di Tangan' tercantum pada kemasan produk bahan pencuci pakaian |
Terbukti memang relatif nyaman bagi tangan pengguna krim pencuci produk tersebut, dibanding jika menggunakan Deterjen (serbuk) yang menimbulkan sensasi panas, gatal dan kering bagi telapak tangan.
Bisa demikian, karena kandungan Surfaktan Anionik yang terkandung dalam krim bahan pencuci ini, sebagaimana terpampang dalam kemasannya
Surfaktan, bahan campuran yang berfungsi menurunkan tegangan permukaan (surface tension) pada air, agar rangkaian kimiawi baik hidrofobia maupun hidrofeel bisa lebih leluasa melaksanakan tugasnya, yaitu; mengangkat kotoran dari kain, lalu mencampurnya dalam air cucian.
![]() |
Informasi kandungan bahan aktif Surfaktan Anionik sebesar 14% |
Jika bahan pencuci baik Sabun maupun Deterjen tak mengandung Surfaktan, maka proses pengikatan kotoran bakal memerlukan waktu lebih lama. Karena, sifat air yang unik, yang salah satunya adalah bahwa air itu memiliki tegangan permukaan.
Tanpa kehadiran Surfaktan, maka permukaan air pun bakal tetap menegang kaku, menyulitkan rangkaian hidrofobia dan hidrofeel menjalankan tugasnya.
Ibaratnya, kehadiran Surfaktan dalam bahan pencuci adalah sebagai mediator, juru damai malah.
Agar, air dengan senyawaan kimiawi bahan pencuci termasuk rangkaian hidrofeel dan hidrofobianya menjalin kemitraan positif melawan kotoran yang melekat. Air pun tak jutakan dan satru lagi dengan bahan pencuci, berkat kehadiran Surfaktan.
Anda semua sudah tahu apa itu Jutakan juga Satru? Jika belum, silakan Anda coba nanya-nanya pada Bestie terdekat, yang berasal dari Jawa Timur ya.
“...yang menjadi keunggulan dan formula rahasia...”
Apalagi, Surfaktan yang terkandung dalam krim bahan pencuci pakaian ini adalah Surfaktan Anionik, selayaknya Surfaktan bermuatan ion-ion negatif yang terkandung di dalam Sabun. Hal ini menjawab pertanyaan, mengapa produk yang sebenarnya bukanlah ‘Sabun Cream’ melainkan ‘Krim Deterjen’ tersebut, memiliki keunggulan ‘Lembut di Tangan’.
Jadi, sebaiknya memang pencantuman ‘Sabun Cream’ pada kemasan produk krim bahan pencuci pakaian ini diperbaiki menjadi ‘Krim Deterjen’ saja, dengan tetap pencantuman kandungan Surfaktan Anionik secara umum. Tak perlu spesifik mencantumkan nama senyawaan Surfaktan Anioniknya, yang menjadi keunggulan dan formula rahasia.
Agar, sejalan dengan tatanan penggolongan apakah bahan kimia masuk kriteria Sabun ataukah Deterjen, guna penentuan penggunaannya secara lebih tepat.
![]() |
Informasi kandungan bahan aktif Surfaktan Anionik sebesar 14%, untuk produk bahan pencuci pakaian warna kuning |
Lalu, dengan tujuan menghargai masyarakat Standar Nasional Indonesia, maka produk krim bahan pencuci pakaian ini, dicantumkan pula acuan SNI 0062:2016, selain logo Halal.
Kok ada logo Halal ya? Kan ‘Krim Deterjen’ ini gak dikonsumsi dan bukan bahan makanan/minuman.
Meski dari kejauhan, salah satu varian produk krim bahan pencuci pakaian ini, yang kemasannya berwarna kuning, dari kejauhan jadi fatamorgana, lantaran nampak seperti bungkusan Mentega.
***
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar