Menertawakan Perubahan
“... menginspirasi pikiran serta bahasan pada masa mendatang...”
Adalah karya seni unik, buah karya seniman asal Italia, dalam pikiran banyak orang hanyalah sekedar karya biasa-biasa saja, sangat sederhana, karena hanya berupa sebuah pisang matang, yang ditempel pada sebidang dinding putih, lalu diplester dengan lakban.
Namun, siapa yang menyangka, bahwa pisang sejenis pisang Ambon putih, Cavendish yang awalnya seharga Rp. 5.000-an ini, ternyata laku terjual melalui lelang, jutaan kali lipat, bahkan hingga Rp. 94-an Milyar.
Sang pembeli karya seni pisang nyentrik yang bertajuk “Comedian” itu, adalah seorang pria muda asal negeri tirai bambu. Sosok muda yang mewakili generasi milenial, yang juga adalah seorang penemu, pendiri TRON, program mata uang kripto, cryptocurrency platform.
“Suatu fenomena budaya yang menjembatani antara dunia seni, cuplikan gambar, mim, dengan komunitas mata uang kripto.” Kilah Justin Sun, sang pria muda usia 34 tahun itu.
“Saya percaya bahwa karya ini bakal lebih menginspirasi pikiran serta bahasan pada masa mendatang. Juga, bakal menjadi bagian dari jalannya sejarah.” Lanjut Sun.
“Sebagai dari upaya menempatkan karya artistik unik ini, baik sebagai bagian sejarah seni, maupun budaya populer.” Tambah Sun lagi, sambil berjanji bakal mengkonsumsi pisang.
“... menjadi terpikat oleh keunikan pesan-pesan multi makna...”
Memang, seringkali terdapat penafsiran yang beragam akan makna tersurat maupun tersirat atas suatu karya seni. Ragam apresiasi yang juga dipengaruhi oleh selera seni, kapasitas ruang pikir dan imajinasi, serta keterkaitan kondisi sosial terkini.
“Berkarya seni, adalah bakat yang menyenangkan dan oleh karenanya bisa memikat bagi siapa saja.” Demikian Maurizio Cattelan, sang pembuat karya Comedian, pernah berkata-kata.
Bagi seorang Cattelan yang mendapat karunia sebagai seorang seniman, maka karya seni berupa sebuah pisang Cavendish, yang menempel di dinding terplester oleh lakban, adalah buah gagasan yang menyenangkan. Oleh karenanya, menjadi peluang bagi orang-orang lain menjadi terpikat oleh keunikan pesan-pesan multi makna.
Sejak tercipta pada tahun 2019, maka penafsiran akan Comedian sebagai karya seni nyentrik pun masih beragam.
“...sontak tergagap dan tergopoh-gopoh, demi...”
Pembelian gagasan atas Comedian sebagai cuplikan gambar pada 20 Nopember 2024 lalu oleh Justin Sun dengan harga diluar nalar pun lantas menjadi satu pemaknaan atas Comedian.
Yaitu, terkait dengan betapa dunia telah menjadi terpikat oleh metode baru dalam memiliki kekayaan dan memutar modal, dengan tanpa menggunakan cara lama berupa kehadiran uang kartal yang kasatmata. Melainkan, secara milenial, yang melibatkan uang tak kasatmata, yang terolah secara kriptograf.
Perubahan tatanan ekonomi dunia atas kehadiran sistem perputaran uang secara virtual, dengan satuan mata uang yang sama, lalu terkelola unik oleh satu sistem kritografi, seolah berhasil membuat banyak orang, khususnya bagi generasi yang lebih sepuh dari kalangan milenial, sontak tergagap dan tergopoh-gopoh, demi mempelajari dan beradaptasi atas perubahan mendadak itu.
Lantas, si pisang Cavendish yang menempel terlakban di dinding pun, termaknai sebagai sosok sang Comedian, sang Komedian, sang Pelawak, yang mengajak banyak orang menertawakan situasi gagap dan gopoh banyak orang, atas perubahan menuju tatanan baru itu.
Komedian yang menebar bahan lawakan satir, semua itu sebenarnya. Karena, mengajak tertawa situasi carut-marut banyak orang, demi agar mereka bisa bersaing dan bertahan, bukan sekedar hidup dan ada.
“...tergambarkan sebagai sang Comedian yang tiada berdaya...”
Tentu, alternatif lain akan makna Comedian sebagai karya seni nyentrik, terlepas dari Comedian telah terbeli oleh si jutawan pemilik program matauang kripto, tetaplah ada. Tergantung dari apa-apa yang terlintas dalam imajinasi dan pikiran, saat cuplikan gambar Comedian tertangkap indera penglihatan.
Seperti, saat Penulis menatap Comedian dalam wujud gambar, maka segera terlintas dalam benak Penulis akan suatu makna yang relevan dengan ketahanan pangan bagi dunia.
Betapa, pisang sebagai buah yang mewakili keperkasaan dan kemampuannya yang hadir sebagai makhluk hidup penuh guna bagi sesama, tergambarkan sebagai sang Comedian yang tiada berdaya, sendirian saja, tak bisa berbuat apa-apa, hanya melindungi dirinya sendiri tertempel kuat pada sebidang dinding kokoh dan sunyi.
Sang pisang, yang mulai dari buah, batang, daun, pelepah, hingga bunga, jantungnya, yang semua sangat bermanfaat dan bisa digunakan untuk mendukung kehidupan manusia, telah tak berdaya, terplester diam.
Sang buah pisang yang kaya vitamin agar manusia mampu bertahan dari serangan penyakit, juga sang buah pisang yang mengandung senyawaan kimia bernama Lektin, yang berguna sebagai surfaktan bagi organ paru-paru agar membuatnya lebih kuat ketika penyakit yang menyasar paru-paru menyerang, telah menjadi tak berdaya, tertunduk diam menempel pada dinding nan dingin.
Demi memandang Comedian, maka lambat laun menyadarkan imajinasi pun pikiran, betapa sang Pelawak mengajak para penontonnya, menertawakan manusia di bumi atas perubahan alam lingkungan hidup, yang kelak bakal menyulitkan mereka untuk mendapatkan sumber-sumber pangan, sebagai akibat ulah mereka sendiri pada masa-masa lalu.
“... perubahan itu sendiri, bakal selalu ada...”
Beraksi melawak, sekaligus satir, telah menjadi watak Comedian, sang pisang Cavendish yang tertunduk dan terplester lakban, menempel sendirian di dinding yang dingin dan sombong.
Lebih dalam, dari kedua pemaknaan tersebut, maka tak berlebihan jika menyimpulkan karya seni Comedian, adalah ungkapan satir yang menertawakan suatu perubahan. Sementara, perubahan itu sendiri, bakal selalu ada.
Dalam tampilan sangat sederhana, Comedian pun menjadi karya seni yang membuat banyak orang terpikat, lalu menyambut setiap perubahan yang terjadi, dalam kerangka berpikir untuk senantiasa cerah menyambutnya, yakni; tertawa.
![]() |
| Comedian - Maurizio Cattelan |
.webp)
Komentar
Posting Komentar