Market & Marketing
“... Lumbung Deso dan Lesung Jumengglung...”
Acara siaran Radio Republik Indonesia, RRI, saban pagi hari pukul 5:30 WIB tentang harga-harga bahan kebutuhan pokok termasuk sayur mayur, apa masih ada?
Penyiarnya, seringkali wanita, menyebut jenis bahan pokok dan sayuran dengan setiap harganya, terinci. Seperti;
- jagung pipilan kering per kilogram, sekian rupiah.
- cabe kriting per kilogram, sekian rupiah.
- kedele per kilogram, sekian rupiah.
- tempe kacang per papan, sekian rupiah.
- jengkol per ons, sekian rupiah.
- beras jenis IR per liter, sekian rupiah.
- dan lain sebagainya.
“...sama-sama kata benda...”
Lalu, informasi harga bahan kebutuhan pokok siaran harian RRI itu pun menjadi acuan bagi siapa pun yang hendak pergi ke pasar, berbelanja barang dan bahan kebutuhan, baik sebagai penjual maupun pembeli.
Sehingga, kedua pihak baik penjual maupun pembeli mendapatkan informasi mendasar kisaran harga bahan yang hendak diperjualbelikan, sehingga ketika tawar menawar dilakukan, maka harga yang ditetapkan punya acuan yang mendasar, yakni siaran harian RRI.
Menarik memang dinamika yang terjadi dalam pasar. Ada transaksi di dalamnya yang masing-masing pihak baik penjual maupun pembeli saling percaya. Di dalam pasar, maka kepercayaan adalah suatu jaminan.
Adapun agar proses jual beli di dalam pasar tetap berputar, maka pasar tak boleh diam, melainkan kudu jalan, diupayakan agar bahan-bahan dagangan turut berputar.
Di dalam pasar, maka barang dagangan kudu dipasarkan. Ada proses pemasaran di dalam pasar. Tanpa proses pemasaran, maka barang dagangan dalam pasar yang sekedar pajangan. Oleh karenanya, dalam bahasa Inggris, pasar yang diistilahkan market, kudu ada kegiatan memasarkan, marketing.
Uniknya, ada imbuhan -ing didalam market, menjadi marketing. Lalu dengan imbuhan -ing itu apakah lantas marketing menjadi kata kerja?
Oh, ternyata marketing tetap sama dengan market, keduanya sama-sama kata benda. Bukan juga sebagai gerund yang membendakan kata kerja, karena fixed, sejak awal market adalah kata benda.
Dari kata benda menjadi kata benda, lalu kenapa repot-repot nambah -ing pada market supaya jadi marketing?
Hyuh, tambah ngelu pora sinau basa Inggris?
“...bakal tak membuat calon pembeli tertarik karena penasaran...”
Jadi, makna marketing itu sedemikian dalamnya, tak sekedar market. Lantas, marketing yang plus -ing dari sekedar market, adalah bahwa dalam setiap market kudu ada proses marketing, proses pengkinian.
Termaknai sebagai proses yang sedang berjalan, seolah menjadi satu kata dalam tatanan present continuous tense.
Jiwa dari makna marketing adalah sedang memasarkan produk yang tersedia dalam market. Barang dagangan di dalam pasar, tanpa sentuhan pemasaran, bakal tak membuat calon pembeli tertarik karena penasaran.
Sama-sama kata benda, maka market dan marketing kudu berjalan berdampingan, agar proses jual beli berjalan, roda ekonomi tetap berputar.
“...tempat nyata untuk belajar menumbuhkan kepercayaan...”
Adapun tentang pasar, maka idola Penulis, adalah pasar tradisional yang punya dinamika kegiatan tawar menawar. Bukan pasar swalayan juga pasar di dalam mal yang harga barang dagangannya seolah sudah mati, tiada kesempatan tawar menawar selayaknya kaidah market dan marketing.
Di dalam pasar swalayan, juga di dalam mal, tak memberi ruang saling berbagi acuan harga dasar yang ditetapkan. Butuh gak butuh, maka harga dagangan adalah sekian. Tak bisa menawar apalagi juga tak bisa nempur, ninggalin catatan utangan berdasarkan saling percaya. Trust.
Pasar tradisional, termasuk pasar induk, adalah tempat nyata untuk belajar menumbuhkan kepercayaan. Oleh karenanya, Penulis suka belanja di pasar tradisional. Karena;
- suasana berhias aroma khas pasar dan dinamika orang-orang saling tawar,
- gelak tertawa renyah yang melegakan pertanda kesepakatan,
- bisik-bisik lirih pelan sang calon pembeli kepada penjual saat mengajukan proposal catatan ninggalin utang,
- mampir lapak jajan pasar buat sekedar oleh-oleh buah tangan,
“...Mbak-mbak bakul yang manis, lagi modis juga milenialis...”
Lalu, jaman sekarang, penjaga lapak dagangan dalam pasar tradisional seringkali adalah Mbak-mbak wanita muda yang ramah, dinamis, modis, kenakan jeans. Waw!
Juga, tentunya gawai elektronik, smartphone menjadi bagian tak terpisahkan dari badan. Mereka, Mbak-mbak bakul yang manis, lagi modis juga milenialis pun paham teknologi terkini yang memungkinkan pembayaran transaksi belanjaan bahan-bahan kebutuhan melalui transfer aplikasi, lebih aman.
Beda sama jaman dulu kala, ketika Mbok-mbok bakul dalam pasar menyimpan dompet dan uang di balik kutang. Bikin pria pencopet yang mau beraksi mencopet urung merogoh lantaran sungkan.
![]() |
| Aneka sayuran dalam lapak pasar tradisional |
Tembang; Lumbung Deso, Lesung Jumangglung dan lain-lain, buah karya maestro dalang Ki Narto Sabdo;
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar