Anugerah Raga

“...sejak kawasan ini dikenal sebagai Wengker...”

Adalah satu wilayah yang berusia telah lama, sejak jaman kerajaan-kerajaan di Jawa Timur, keberadaannya telah ada. Berasal dari dua kata, Pramono yang bermakna Anugerah dan Rogo yang bermakna Raga, wilayah Ponorogo telah memperkaya khazanah kekayaan budaya dan peradaban yang tak hanya dikenal di Indonesia, namun juga manca negara.

Tak hanya dikenal sebagai wilayah yang menyumbang karya seni temurun berupa tarian massal bernama Reog, sejak kawasan ini dikenal sebagai Wengker, jaman kerajaan Majapahit. Tatanan kisah dalam saga Reog, memberi gambaran betapa sosok singa raksasa yang garang, kudu tunduk dengan seorang sosok wanita yang menari-nari gemulai di atas pundak sang singa.

Singa buas yang tengah terkangkangi, manut terkendali oleh sosok yang lemah lembut. Sosok gemulai yang sama sekali tak dinyana mampu meluluhkan keganasan sang Singa, tanpa si Singa itu sendiri menyadarinya.

Reog dipercaya sebagai satu karya seni massal yang ditujukan kepada petinggi kerajaan Majapahit sebagai kritikan pedas, bahwa kerajaan besar itu telah memudar kewibawaannya, karena telah terkangkangi oleh sosok-sosok yang lemah kepemimpinan dalam struktur kerajaan Majapahit.

Betapa, Reog sebagai karya seni telah menyumbang pemaknaan nan klasik, relevan hingga kini, bahwa tak hanya kekuatan raga yang bisa menjamin keutuhan suatu negara tempat banyak rakyat bernaung dan meraih harapan di dalamnya, melainkan juga kuatnya kepemimpinan.


“... gagasan sang guru bangsa yang diajarkan kepada para muridnya...”

Betapa pula, suatu karya seni dalam bentuk sendratari massal mampu menginspirasi pentingnya kuatnya kepemimpinan ketimbang kekuatan raga semata.

Dalam hal pemaknaan atas inspirasi kepemimpinan atas masyarakat Ponorogo, maka tercatat dalam sejarah perjalanan bangsa tentang kehadiran satu sosok yang sepadan dengan predikatnya sebagai guru bangsa.

Adalah Haji Omar Said (HOS) Tjokroaminoto, yang asli Ponorogo, telah menggurat warna perjalanan sejarah perjuangan bangsa atas gagasan-gagasan yang mewadahi akar berbangsa nyata rakyat Indonesia, yang terwakili oleh tiga kalangan, yakni Priyayi, Santri dan Abangan.

Terdapat tiga sosok murid HOS Tjokoroaminoto, yakni Sukarno yang mewakili kalangan Priyayi, lalu Sekartaji Kartosuwiryo yang mewakili kalangan Santri dan Muso yang mewakili kalangan Abangan.

Adapun kalangan-kalangan Priyayi, Santri dan Abangan, adalah tiga kalangan yang hadir secara nyata dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia sejak ratusan tahun lampau.

Menjadi fakta yang nyata pula bahwa dalam menata kehidupan berpolitik dan bernegara, maka ketiga kalangan tersebut seyogianya terdapat wadah guna menampung segala aspirasi dari anggota masyarakat yang mewakili. Demikian gagasan sang guru bangsa yang diajarkan kepada para muridnya.

Ketiga murid sang guru bangsa tersebut pun, kelak bakal mewarnai perjalanan berbangsa dan bernegara rakyat Indonesia.

Sejarah pun mencatat, Sukarno yang mewakili Priyayi, kalangan yang berpandangan politik Nasionalis, telah mengalahkan kedua rekannya itu yang masing-masing mewakili kalangan Santri, yang berpandangan politik keagamaan terutama Islam dan kalangan Abangan, yang berpandangan politik sosialis-komunis.


“...compete, survive and growth...”

Hingga kini, kalangan Priyayi yang berpandangan politik Nasionalis, masih tetap mendominasi tatanan berpolitik dan bernegara di Indonesia. Entah sampai kapan roda sejarah akan berputar, yang memberi kesempatan bagi baik kalangan Santri maupun Abangan mengendali tatanan politik, berbangsa dan bernegara.

Karena, selama faktor kepemimpinan menjadi kunci atas perilaku dan kebijakan utama untuk dijalankan oleh kalangan yang masih menjadi pemenang, maka mereka bakal tetap mampu bersaing, bertahan dan bertumbuh (compete, survive and growth).

Sekali lagi, faktor kepemimpinan yang sedikit banyak menjadi inspirasi atas sendratari massal asal Ponorogo, Reog, telah  pula memperkaya konsep mendasar dari sang guru bangsa, HOS Tjokroaminoto, dalam mengajarkan bagaimana kelak para pendiri bangsa menata kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.


“... Anda tau artinya wagu? ...”

Hingga kini pula, Ponorogo tetap eksis sebagai wilayah yang berusia ratusan tahun, dengan kearifan lokal yang menyertakannya. Tak hanya Reog yang menjadi primadona mindset ketika banyak orang mendengar nama Ponorogo. Namun juga, kawasan yang tertata rapi, bersih, bersuasana agraris karena masih terdapat hamparan sawah membentang.

Juga, tentunya dikenal sebagai kawasan yang terkenal dengan kekayaan kulinernya seperti Sate Ponorogo, berupa sate ayam yang sayatan daging ayamnya unik, termasuk bumbu saus kacang, sambalnya yang lain daripada yang lain.

Terus, Sate Ponorogo cocoknya dinikmati sama Lontong. Kalo bersanding sama nasi, cita rasanya jadi wagu.

Anda tau artinya wagu?

Bukan, wagu itu bukan nama daging masak steik. Kalo itu namanya Wagyu.

Apa ya wagu itu? Penulis kok agak perlu alenia panjang buat menjelaskannya. Nanti aja ya jadi tulisan terpisah, kita akan khusus membahas Wagu.

Lalu, ada Pecel Ponorogo yang memiliki cita rasa lebih berani, lebih pedas, dibanding cita rasa pecel di daerah tetangganya, yakni Madiun. Terus, ada Dawet nJabung. Suguhan yang mampu menyegarkan kerongkongan saat dilanda kehausan akibat terik panas ini, sangatlah favorit di Ponorogo dan sekitarnya.

Oh iya lagi ada Jenang khas Ponorogo yang memiliki cita rasa manis, legit, sangatlah pas untuk menjadi oleh-oleh sepulang dari Ponorogo menuju kembali ke daerah yang sebagai perantauan.

Tentu, siapapun yang mendapat oleh-oleh Jenang khas Ponorogo bakalan senang. Karena, selain menikmati kelezatan Jenang, juga membayangkan keramahan dan kenyamanan suatu daerah bernama Ponorogo, yang kemudian menghadirkan cita-cita suatu saat bakal ke sana, bertandang.


“... terpandang sebagai hasil inovasi atas karya batik.”

Ponorogo pun tak ketinggalan dalam menyumbang karya seni lainnya yang khas Indonesia, yakni; Batik.

Batik Ponorogo terbilang unik, lantaran cenderung tak mengikuti kaidah pola lukisan batik yang telah terstandarisasi melalui kebijakan lokal khas Jawa Tengahan, melainkan terpandang sebagai hasil inovasi atas karya batik.

Motif Singa Reog menjadi maskot khas Batik Ponorogo

Corak nuansa warna batik Ponorogo pun terlihat lebih kalem dibanding batik wilayah pantai utara Jawa Tengah, terutama Pekalongan, yang warna-warninya lebih berani, menyala-nyala. Namun juga tak semuram corak warna batik khas sisi selatan Jawa Tengah, poros Solo-Jogja.

Corak dan aneka motif batik Ponorogo yang berbeda dengan pakem batik Jawa Tengahan baik sisi utara (Pekalongan) dan sisi selatan (poros Solo-Jogja).

Nuansa warna batik khas Ponorogo perpaduan antara sisi utara dan selatan Jawa Tengah, dengan motif-motif unik yang menambah elegan dan tentunya terdapat motif sang maskot Ponorogo yakni motif singa Reog.


“... Memikat, ramah dan cerdas...”

Oh iya, ada lagi tentang Ponorogo. Tentunya, sebagai seorang pria, maka Penulis pun tiada luput untuk menggali karakter kebanyakan wanita asli Ponorogo.

Setidaknya, ketika Penulis masih muda dan sering berjumpa, mengenal beberapa wanita asal Ponorogo, baik sebagai teman sekolah, teman kuliah, teman kerja, teman les bahasa Inggris, juga beberapa teman dalam pengertian pertemanan yang positif.

Memikat, ramah dan cerdas, adalah tiga kata yang bisa terangkai menjadi nilai karakter utama atas wanita-wanita asal Ponorogo. Bahkan, salah satu istri presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Sukarno, adalah Ibu Hartini yang wanita asli Ponorogo.

Ibu Hartini, telah menjadi istri kesayangan Ir. Sukarno, lagi setia mendampingi sang proklamator, hingga akhir hayat sang pencetus konsep Pancasila, setelah kejatuhan pasca huru-hara politik tahun 1965.

Ibu Hartini telah memberi teladan untuk menjadi wanita setia mendampingi sang suami tercinta, apapun cobaan hidup yang menimpa padanya.

Ponorogo, mulai dari inspirasi kepemimpinan atas satu karya sendratari, kehadiran tokoh nasional sosok guru bangsa, kelimpahan alam agraria, aneka kuliner dan karya batik nan unik serta karakter wanita-wanita nan memikat, ramah lagi cerdas, maka tak berlebihan wilayah ini untuk mendapat predikatnya sebagai Karunia nan Elok.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rhesus yang Pembeda

Alam Semesta Dalam KeAgunganNya

Missing Link Terjadi di Bulan(?)