Batu Didih Buat Memasak

 

“... panas yang muncul dalam wajan meningkat logaritmik bukan eksponensial,...”

Kegiatan mengolah masakan, itu bukan karena sekedar bisa memasak. Namun juga sebaiknya punya bakat menentukan taste, cita rasa. Sementara, cita rasa olahan masakan juga tak hanya dipengaruhi oleh aneka bahan dan bumbu-bumbu.

Bagaimana bahan dan bumbu yang digunakan untuk mengolah masakan tertentu bisa membentuk chemistry yang tepat karena berpadu satu sama lain dalam tingkat kematangan yang pas, adalah rumusan utama bagaimana suatu masakan bakal memiliki cita rasa nan menggugah selera.

Puluhan tahun lalu, di beberapa tempat, terdapat metode lama tentang cara meraih cita rasa suatu masakan. Suatu metode yang khususnya digunakan oleh Ibu-Ibu kala itu, buat membuat empuk bahan masakan berupa daging, apakah ayam, sapi, kebo ataupun kambing.

Metode murah meriah, tanpa perlu menggunakan alat panci presto yang saat itu selain harganya selangit, juga bisa bikin daging terlalu empuk. Justru apabila masakan olahan daging terlalu empuk, malah kurang sip. Soalnya, gigi geligi jadi manja, kurang menantang karena tak diajak bertualang.

Jadi, itu pas proses menggongso atau mengungkep, maka potongan daging yang telah ada dalam wajan, dicemplungin keramik tutup cangkir atau lepek, tatakan cangkir kecil. Bukan keramik lantai ubin atau tembok ya, nanti malah wagu. Atau bisa juga potongan genting yang terbuat dari tanah liat merah yang sering disebut kereweng.

Fungsinya keramik atau kereweng tersebut, sebagai batu didih. Kayak proses distilasi kudu gunakan batu didih biar larutan tak gampang menguap. Karena, panas terserap ke dalam keramik, berupa alloy, campuran silika-magnesium-alumina alami, terus pas panasnya jenuh, kalorinya dikeluarin terpusat dari keramik sebagai batu didihnya.

Masakan daging pun bisa lebih empuk, bumbu gongsoan nggak gampang asat, kering, soalnya panas terpusat dalam keramik, bukan dari permukaan wajan.

Bumbu masakan pun lebih merasuk ke dalam daging, dikarenakan proses memasak yang tak terburu-buru, panas yang muncul dalam wajan meningkat logaritmik bukan eksponensial, sehingga membuat air gongsoan tak lekas menguap lalu kering.

Metode yang sama juga bisa buat masakan berkuah, dengan bahan isian berupa aneka daging tersebut di atas, macam; sop, soto, rawon, semur daging atau ketika memasak olahan kaldu.

Bisa dicoba metode lawas yang demikian, dengan harapan cita rasa masakan menjadi lebih bertambah lezat, karena proses yang membuat bahan dan bumbu menjadi lebih memadu.Tapi harap jangan lupa, kalo sudah matang, itu keramiknya segera diambil. Daripada nanti disangka sengaja buat suguhan.

Keramik khusus mengolah masakan berbahan daging, sudah tersedia di pasaran, meski jarang menjadi pilihan karena kurang populernya metode tersebut.

Menjadi peluang bagi peminat mengolah masakan yang menginginkan bahan daging menjadi lebih empuk dan ramah gigitan, juga lebih memiliki cita rasa karena bumbu-bumbu yang merasuk sempurna, karena proses pemanasan sempurna yang terbantu oleh batu didih.

Gudeg masakan tradisional dengan cara memasak yang tradisional pula

Contoh keramik sebagai batu didih buat memasak

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Alam Semesta Dalam KeAgunganNya

Rhesus yang Pembeda

Missing Link Terjadi di Bulan(?)