Berbaik Sangka Dengan Jalannya Sejarah
“...Isi berita Prank tersebut adalah perubahan perintah...”
Cara bertuturnya tak gegabah menyimpulkan, namun menyajikan kumpulan ‘puzzle’ fakta, yang lalu diserahkan ke setiap pembacanya untuk merangkai ‘puzzle-puzzle’ itu, sesuai cara berpikir maupun pengetahuannya.
Kejadian 1 Oktober 1965 dinihari itu diawali oleh prakarsa Bung Karno untuk mengumpulkan dua kubu petinggi militer Angkatan Darat, AD, yang bersebrangan dalam menyikapi Dwi Komando Rakyat. Dwikora. Sedianya pertemuan dilaksanakan di istana Bogor pagi pada 1 Oktober 1965.
Momen undangan Bung Karno kepada para petinggi militer tersebut digunakan oleh petinggi PKI di Jakarta, sebagai momen krusial untuk membuktikan ke Bung Karno bahwa mereka tak kompak dalam menghadapi kekuatan Nekolim berkedok negara boneka Malaysia.
Apalagi Brigjen Suparjo satu-satunya perwira tinggi yang memimpin gerakan tersebut, sama sekali tak paham pola operasional dan teknis ‘Mengundang’nya. Dia saat itu masih sibuk di Kalimantan Barat mengkoordinasi operasi Dwikora.
Sebagai perwira pasukan pengawal keselamatan Presiden dan jaman itu komunikasi tak semudah sekarang, sepucuk surat yang Doel Arif terima, tanpa pernah jelas dikirim oleh siapa, langsung dijadikan dasar pelaksanaan operasi dilakukan tepat Jam J, Hari H.
“... ada sosok misterius...”
Bencana pun tak terhindarkan. Traumanya hingga 59 tahun mendatang, hanya karena Prank oleh pihak ketiga. Sebagian sejarawan pun dalam buku tersebut mengungkap ada sosok misterius yang nasibnya juga tak jelas saat Orde Baru berkuasa. Namanya Syam Kamaruzaman.
Surat perubahan peritah dari ‘Mengundang baik-baik’ menjadi ‘Tangkap hidup atau mati’ kepada para Jendral tersebut diyakini dikirimkan oleh Syam kepada Doel.
Bung Karno pada hari Kamis 30 September 1965 tak langsung ke istana Bogor. Malam harinya dia harus menghadiri undangan acara seminar nasional insinyur se Indonesia di Senayan, bersama istrinya, Ratna Sari Dewi (Naoko Nemoto), lalu menghabiskan malam Jum’at di wisma Yaso, bilangan Jakarta Selatan.
...”Kok dipateni?!”...
Sampai di Halim DN Aidit sudah menunggu, meski tak diundang. Sudah jelas tekad petinggi PKI itu adalah untuk ‘curhat politik’ sekaligus memberikan argumen mengapa pelaksanaan Dwikora menjadi setengah hati, sementara pemuda/pemudi didikan PKI telah siap sepenuhnya dilibatkan dalam operasi Ganyang Malaysia tersebut.
Namun para Jendral yang diundang tak kunjung tiba, hingga Brigjen Sabur pimpinan tertinggi Resimen Cakrabirawa menemui Bung Karno, mengabarkan bahwa Jendral-Jendral yang diundang telah menghilang, sebagian dibunuh ditempat, oleh sebagian anggota Cakrabirawa yang dikomandani operasi ‘Mengundang’nya oleh Letkol Untung.
Bung Karno naik pitam, marah besar. Ditamparnya Brigjen Sabur seraya memaki; “Kok dipateni?!”. Dari sini operasi G30S yang tadinya adalah upaya mendamaikan dua kubu petinggi militer AD dalam menyikapi Dwikora, mendadak porak poranda.
Tak diceritakan bagaimana Letkol Untung menghadapi Letnan Doel Arif dan kawan-kawannya. Namun faktanya tiga kompi pasukan Cakrabirawa itu sontak jadi gerombolan liar, melarikan diri dari Lubang Buaya setelah menguburkan korban-korbannya di sebuah sumur tua.
“...He died as a broken man...”
Adalah seorang Agen Polisi yang tertangkap oleh gerombolan penculik Jenderal dan bersembunyi di kolong truk saat di lubang buaya, akhirnya selamat. Saksi sebenarnya apa-apa yang terjadi di lubang buaya saat itu adalah Agen Polisi ini, bernama Sukitman.
Sejarah mencatat Sukitman yang membantu aparat TNI menyisir dan menemukan lubang kuburan massal korban petualang G30S yang telah ditanami pohon pisang. Sementara itu gerombolan oknum Cakrabirawa pelaku pembunuhan itu lari tak tentu arah. Mereka bingung, karena kelaparan mereka menyerahkan diri di Cirebon.
Bung Karno pun pada 1 Oktober 1965 sangatlah panik. Sempat dia hendak ke Istana Negara untuk bertemu keluarga, namun pengawalnya melihat ada pasukan liar di sekeliling Istana. Urung, lalu berubah arah berkunjung ke rumah Ibu Hartini, istri beliau di kawasan Grogol. Untuk sementara, koordinasi keamanan dan mengamati perkembangan keadaan dilakukan di tempat ini.
“...lembaran paling kelam dalam sejarah Indonesia...”
Peristiwa yang lalu merubah sendi bernegara, berpolitik dan berbangsa, diawali oleh sebuah sikap keblinger pimpinan PKI dan Prank/kabar palsu oleh kekuatan ketiga, kepada sebagian pasukan Cakrabirawa yang terlibat dalam peristiwa itu.
Sekali lagi, semuanya berhikmah, mari kita berbaik sangka dengan sejarah.

Komentar
Posting Komentar