Furiosa a Mad Max Saga (2024) - Betina Tangguh Peredam Katastropi
"Unik memang perbedaan proses mitosis dan meiosis..."
Entropi yang Selalu Meningkat
Pada suatu sistem yang didalamnya terdapat kinerja, maka proses kinerja dalam sistem itu bakal terjadi ketidakberaturan. Selama kinerja belum meraih hasil akhir maka ketidakberaturan sistem, yakni entropi bakal terjadi dan selalu meningkat.
Entropi terjadi tak hanya pada sistem yang kasat mata, melainkan juga terjadi pada suatu sistem yang tak terlihat oleh mata telanjang. Terjadinya pembelahan sel, proses mitosis, misalnya.
Hingga sel benar-benar terbelah, maka entropi dalam sistem sel pada proses pembelahan sel, bakal selalu meningkat hingga proses tersebut menghasilkan sel yang terbelah.
Sebaliknya pada proses pengurangan jumlah sel reproduksi, proses meiosis, maka entropi pada sistem proses tersebut, juga meningkat sehingga menghasilkan sel reproduksi yang lebih kecil kuantitasnya dibanding sel-sel pertumbuhan jaringan otot dan organ makhluk hidup.
Unik memang perbedaan proses mitosis dan meiosis. Dua sistem yang terdapat proses-proses yang berbeda, agar tiap makhluk hidup yang berkembang biak secara seksual, bisa mengalami kesetimbangan di dalam tubuhnya. Yakni, sel-sel yang bertumbuh kembang secara mitosis yang terjadi pada jaringan otot dan organ-organ.
Sebaliknya, untuk sel-sel reproduksi seperti organ seksual beserta isinya seperti sel spermatozoa dan sel telur beserta kromosom-kromosom di dalamnya, bakal mengalami reduksi, mengalami proses meiosis, kuantitasnya tak berkembang namun justru tereduksi.
Proses meiosis dengan terjadinya entropi yang unik pula di dalamnya, dimana sistem menjadi tak beraturan justru untuk suatu hasil yang reduksi, terkurangi, menjawab fenomena kenapa ukuran organ genetal seksual makhluk hidup tak seberkembang organ pun jaringan lainnya yang non reproduksi.
Tititnya pria misalnya, pada kondisi perkembangan optimal saat dia remaja, maka sampai dewasa ukurannya juga demikian saat usia optimal remaja, besar dan panjangnya mandeg tak seperti jaringan pun organ lainnya yang non reproduksi.
Sel spermatozoa milik pria juga demikian. Jumlahnya selalu terkurangi, karena tak mengalami proses mitosis, ikut berkembang, hingga mencapai jumlah tetap dan dari sekian juta sel spermatozoa bakal ada satu sel saja yang siap membuahi satu sel telur milik wanita/betina agar terjadi proses reproduksi, perkembangbiakan.
Lalu, hasil proses reproduksi tersebut menyumbang perkembangan makhluk hidup, dalam hal ini manusia, yang dalam perkembangannya tiap manusia bakal berinteraksi satu sama lain, baik terhadap sesama maupun lingkungan hidupnya, yang lalu menghasilkan kinerja, yang turut memengaruhi ketidakberaturan sistem dalam seisi bumi, suatu planet dalam jagat raya tempat manusia dan lingkungan hidupnya berada.
Puluhan ribu tahun kemudian, sejak ada awal kinerja manusia atas lingkungan hidupnya yang lambat laun mengganggu kesetimbangan alami, yang turut pula memengaruhi entropi bumi, maka ketidakberaturan sistem dalam bumi pun mencapai titik puncak, yang menghasilkan suatu hal yang tak diinginkan, yakni suatu hasil berupa malapetaka, kehancuran, katastropi.
"Manusia lantas terganggu kapasitas berpikirnya..."
Ketidakseimbangan Memicu Katastropi
Katastropi adalah hasil akhir dari suatu proses ketidakberaturan sistem, entropi, yang didalam sistem tersebut terdapat gangguan pada kesetimbangan proses.
Dalam proses pembuahan sel spermatozoa terhadap sel telur, misalnya, apabila terdapat ketidaksetimbangan proses dalam sistem pembuahan, seperti lingkungan tempat sel telur kadar derajat keasamannya terlampau tinggi, maka entropi bisa menghasilkan suatu katastropi, berupa kegagalan reproduksi.
Termasuk, saat isi bumi tak seimbang antara jumlah manusia yang saling berinteraksi, dengan jumlah penunjang kinerja lingkungan hidup yakni ekosistem flora dan fauna, maka tingkat kadar gas udara ambien alamiah penunjang hidup dalam bumi, yakni Nitrogen (78%), Oksigen (21%) dan Argon serta gas lainnya (1%), bakal menurun kualitas pun kuantitasnya, tergantikan oleh gas karbondioksida yang tak sempat terurai oleh proses fotosintesa tanaman.
Juga, Nitrogen suatu gas yang tak mudah bereaksi, sifatnya yang innert, bakal jauh berkurang, karena ketiadaan pepohonan dan dedaunan, membuat udara bumi serasa gerah, tak nyaman.
Hasilnya? Adalah efek rumah kaca, manusia serasa tinggal dalam rumah kaca tanpa ventilasi pas cuaca tengah terik siang hari. Lalu, dunia mengalami penghangatan, global warming, lantas perubahan iklim pun terpicu.
Dampaknya? Perlahan sumber daya alam penunjang kebutuhan pokok manusia yakni bahan pangan termasuk air minum karena siklus hujan yang porak poranda gara-gara iklim berubah, bakal terus terjadi.
Manusia lantas terganggu kapasitas berpikirnya yang sedianya adalah untuk saling memuliakan sesama dan lingkungan hidup di dalam bumi, menjadi saling bersaing mempertahankan kebutuhan pokok penunjang hidup mereka.
Bahkan, manusia pun menjadi demikian agresif, tak ragu untuk saling berperang, saling memusnahkan. Adagium latin ‘Sie Vis Pacem, Para Bellum’ yang bermakna kurang lebih ‘Jika ingin perdamaian, maka bersiaplah berperang’ pun diagung-agungkan.
Puluhan ribu tahun semenjak manusia menggurat sejarah keberadaan mereka dalam bumi, saling berinteraksi membentuk kinerja yang menyumbang entropi dalam bumi, yang hingga kini telah menampung setidaknya delapan milyar jiwa manusia dengan kuantitas wilayah tempat tinggal yang semakin menyempit dan upaya meningkatkan kualitas lingkungan hidup yang semakin sulit, maka tersadari bahwa sang planet biru ini sedang tidak baik-baik saja, ia tengah merintih, sakit.
Bagi bumi, ancaman katastropi bagai mengulang sejarah ribuan tahun silam, ketika bumi terlanda banjir bandang. Suatu malapetaka yang menuntun keberlanjutan sejarah awal peradaban manusia modern, sebagai hikmah.
Hanya saja kali ini, jika katastropi bagi bumi terjadi lagi, maka sentuhan hikmah bukanlah keniscayaan, melainkan sepenuhnya malapetaka memilukan. Karena, manusia tengah berada pada titik puncak punya akal pikiran sebagai manusia modern, yang tak menggunakan karunia tersebut bukan untuk menuai kebermanfaatan melainkan ketamakan.
"...berdebu, agresif, brutal, minim romansa, penuh laga kendaraan bermotor yang saling kejar..."
Karya Sinema Pewanti Dunia Akan Katastropi
Dalam suasana dunia tengah hancur akibat katastropi, di tengah padang gurun nan panas berdebu di dalam sebuah benua yang berbentuk sangat berbeda dibanding ketika bumi sebelum luluh lantak, adalah seorang wanita tangguh bergelar Praetoria, Furiosa namanya.
Kekhawatirannya akan kampung halamannya nan permai bakal turut terlibat dalam carut-marut sengketa antara manusia yang perilakunya sangat buas biadab akibat alam lingkungan bumi tak seimbang lagi, membuat Furiosa bertekad agar tempat dia lahir, berlimpah hijau daun, air bersih, fauna dan segala kebutuhan bagi manusia selayaknya alam bumi masih asri lestari, tak bakal diketahui oleh kekuatan pengusung tirani.
Furiosa a Mad Max Saga (2024), adalah sebuah karya sinema bergenre laga pasca apokaliptik setelah bumi mengalami malapetaka, katastropi, akibat peperangan antar manusia demi memperebutkan bahan pangan, air minum, bahan bakar minyak dan senjata.
Mengambil kalimat a Mad Max Saga, maka jalinan kisah berkelindan dengan tetralogi Mad Max yang fenomenal sejak Mad Max besutan tahun 1978, kemudian sekuel kedua yakni Mad Max Road Warrior tahun 1982, lalu sekuel ketiga besutan tahun 1985, yakni Mad Max Beyond Thunderdome. Ketiganya diperankan oleh aktor asal Australia, Mel Gibson.
Tiga puluh tahun kemudian, kisah Mad Max pun berlanjut dengan torsi adegan laga nan lebih brutal pemicu adrenalin, yakni Mad Max Fury Road (2015), yang diperankan aktor asal Inggris, Tom Hardy.
Pada seri keempat tentang sepak terjang si Max Rockatansky sang mantan aparat penegak hukum jalan raya tersebut, maka sosok Furiosa pertama kali dikenal, yang diperankan oleh aktris asal Afrika Selatan, Charlize Theron.
Plot dalam Furiosa a Mad Max Saga (2024), dengan sosok Furiosa diperankan oleh Aktris asal Amerika Serikat, Anya Taylor-Joy pun menjadi prekuel dari Mad Max Fury Road (2015), dengan ciri khas adegan tetralogi Mad Max berupa tatanan adegan nan berdebu, agresif, brutal, minim romansa, penuh laga kendaraan bermotor yang saling kejar, dengan logat dan cengkok aksen bicara para tokohnya yang sangat Australia.
Selebihnya, Furiosa a Mad Max Saga (2024), juga tetralogi Mad Max, memberi pesan moral bahwa, betapa perilaku manusia yang membawa alam lingkungan dalam bumi kehilangan kesetimbangan, maka entropi dalam bumi yang seharusnya berproses menghasilkan tatanan kehidupan alami, bakal berubah menjadi katastropi.
Manusia akhirnya bakal kehilangan nurani, sebaliknya lebih punya perilaku keji, demi mendapatkan kebutuhan pokok yang dia ingini, tiada lagi tempat tinggal nyaman di dalam bumi.
"... khususnya dalam hal penanaman pepohonan, menyemarakkan pertumbuhan flora..."
Adegan Laga Bisa Menginspirasi Langkah Nyata
Menarik untuk memaknai Furiosa a Mad Max Saga (2024) tak sekedar karya sinema semata, melainkan merenungi tindakan apa oleh manusia agar kengerian yang tergambar, tak terjadi.
Benar, salah satunya, sejak tahun 2007 pasca perhelatan Konferensi Tingkat Tinggi Bumi di Bali, sejak itu manusia diajak untuk sepenuhnya memaknai pentingnya peran menjaga keseimbangan alam lingkungan bumi, khususnya dalam hal penanaman pepohonan, menyemarakkan pertumbuhan flora.
Agar, serapan gas karbon dioksida bisa dikurangi, terolah menjadi karbohidrat, sebagai bahan pangan, air dan gas oksigen, serta menjaga keberadaan gas nitrogen bagi bumi dari kehadiran tiap tanaman.
Bagi Indonesia, maka berita baik terkait pengelolaan tanaman berupa penghargaan oleh bank dunia terhadap propinsi Kalimantan Timur, dalam partisipasi mekanisme dunia tentang Pasar Karbon adalah satu contoh pencapaian yang menginspirasi upaya memperlambat laju perubahan iklim atas bumi.
Termasuk, mengupayakan agar ketidakberaturan sistem, entropi dalam bumi, adalah suatu proses yang menghasilkan produk-produk alami yang memuliakan bumi, agar tercegah katastropi.
![]() |
| Poster Furiosa a Mad Max Saga (2024). Sumber - movieinsider |
Telaga Asih, 28-Mei-2024

Komentar
Posting Komentar