D-Day Mengubah Wajah Dunia - Menuai Hikmah Atas Keterpurukan
…senantiasa mendampingi, menyemangati, memberi teladan…
Invasi
Pagi Menggurat Sejarah Bumi
Pagi hari ini, 80 tahun lalu, 6 Juni 1944 tepat pukul 6:30
waktu setempat, pantai Normandia Perancis tanpa pernah terduga, tiba-tiba bergolak
oleh panas api peperangan, luluh lantak dibombardir dari arah laut oleh
angkatan laut sekutu.
Dunia pun mencatat invasi militer oleh pasukan sekutu ke
wilayah yang ketika itu masih dikuasai oleh Jerman tersebut, sebagai D-Day.
Sebuah operasi militer besar bersandi Overlord tersebut pun menjadi titik awal
runtuhnya dominasi Jerman atas wilayah Eropa, selama Perang Dunia ke-2 (PD II).
Operasi Overlord yang diarsiteki oleh dua jendral karismatik
yakni Dwight Eisenhower dari Amerika Serikat dan Jendral Montgomerry dari
Inggris ini, adalah operasi militer terbesar sepanjang sejarah yang melibatkan
delapan negara, yaitu; Amerika, Inggris, Kanada, Australia, Cekoslovakia,
Prancis, Norwegia dan Polandia.
Negara-negara itu beramai-ramai mengeroyok Jerman yang
dikuasai partai Nazi, guna mengakhiri pendudukan Jerman atas banyak negara Eropa
sejak 1940, pasca takluknya Polandia kepada Jerman.
Tak kurang 24 ribu pasukan lintas udara Amerika dan Inggris
diterjunkan malam dini hari sebelum serangan D-Day, ke wilayah belakang garis
pertahanan Jerman di Perancis untuk mengalihkan perhatian pertahanan garis
depan Jerman.
Sebagai sebuah operasi militer, maka D-Day terbilang nekat. Karena
dilakukan pada kondisi cuaca yang sama sekali tak bersahabat, sehingga banyak
jatuh korban di pasukan sekutu, terutama saat pendaratan di salah satu pantai
Normandia yang bersandi Omaha.
Ratusan pasukan ranger muda Amerika Serikat meregang nyawa di
pantai itu dihajar senapan mesin MG-42 Jerman yang sangat ditakuti dan bersuara
seperti kertas tebal yang disobek sobek, menghamburkan timah panas di segala
penjuru tak kenal ampun.
Apalagi ditambah dengan timah tajam yang dikeluarkan oleh
senapan Karabiner 98K yang meski hanya berisi lima butir peluru dalam setiap
magasinnya, namun sangat akurat. Senapan ini mampu membuat korban dipihak sekutu selama operasi Overlord
tak kurang 4.000 orang kehilangan nyawa, di negeri orang.
Lain kisahnya dengan pantai-pantai pendaratan D-Day lainnya
yaitu; Utah, Juno, Sword dan Gold, yang hanya sedikit korban karena tak ada
perlawanan sama sekali oleh pasukan Jerman yang tidak menyangka bahwasanya
pasukan sekutu akan menginvasi Perancis di kawasan pantai Normandia.
D-Day sukses karena kepemimpinan para petinggi militer selama
operasi Overlord senantiasa mendampingi, menyemangati, memberi teladan kepada
seluruh pasukan selama menjalani tugas memenangkan setiap palagan di lapangan, dalam
kondisi tersulit sekali pun.
Sementara pihak Jerman kalang kabut karena serangan yang tak
pernah diduga ini dan sang Fuhrer, Hitler, yang tengah berada di jantung
ibukota Jerman sedang dalam kondisi tidur pulas tanpa seorang pun berani
membangunkannya, saat invasi Normadia oleh sekutu terjadi.
Seandainya Hitler dan petinggi Jerman menuruti ide seorang jendral yang berjuluk sang singa padang pasir, Erwin Rommel, agar segera menuntaskan pembangunan basis pertahanan di wilayah Normandia sebagai Atlantic Wall, tentu pasukan sekutu menelan pil pahit, bahkan tak bakal berani melancarkan operasi Overlord di Normandia.
In the end, allied won the war although they lost many battles.
Palagan
Bulge Awal Kekalahan Jerman
Dalam perjalanannya, di tengah persaingan Eisenhower dan
Montgomery yang saling unjuk kekuatan demi merebut opini, bahwa negara mana
yang mendominasi pasukan sekutu selama penaklukan Jerman selama perang besar di
Eropa, apakah Amerika atau Inggris, maka D-Day adalah terobosan menuju
kemenangan pasukan sekutu atas Jerman.
Namun tak mudah memang mengalahkan Jerman. Operasi Overlord
yang diperhitungkan berakhir pada natal Desember 1944, molor hingga Mei 1945
saat pasukan Rusia merebut Berlin. Itu pun melalui sederetan pertempuran
legendaris yang memilukan bagi pasukan sekutu seperti operasi Pasar Garden (Market Garden), palagan Bulge (Battle Of The Bulge) yang juga dikenal
sebagai Ardennes (Ardennes Offensive).
Jerman keliru bertaruh, terlalu meremehkan kegigihan pasukan
sekutu. Akhirnya Berlin tak ada garda, pasukan terbaik Jerman
berguguran selama Ardennes Offensive.
Kota kecil bernama Bastogne menjadi gerbang
pembuka invasi sekutu memporak porandakan benteng akhir Jerman, Berlin.
Meruntuhkan pertahanan akhir Jerman di Berlin, maka giliran
tentara merah Rusia masuk ke jantung Jerman, dengan semangat pelampiasan dendam
terhadap orang-orang sipil Jerman, khususnya wanita, atas operasi Barbarosa.
Sebuah operasi militer Jerman tahun 1941 yang mengingkari perjanjian Jerman dan
Rusia agar tak saling serang..
Sejak operasi Overlord, Hitler sang Fuhrer selalu dalam
suasana hati, mood, yang tak bagus. Panglima perang tertinggi Jerman yang tak mau digangggu saat terlelap
sementara musuhnya, pasukan sekutu berhasil menembus pantai Normandia, adalah
pesan alam bahwa Jerman bakal terpuruk lagi dalam dua perang besar abad ke-20.
Ditambah adanya plot 20 Juli 1944, berupa persekongkolan
beberapa perwira-perwira tinggi Jerman yang hampir membuat Hitler kehilangan
nyawa, semakin memperburuk kepemimpinannya sebagai pucuk pemimpin perang
Jerman.
Sementara, kekuatan militer Jerman masih tangguh waktu itu,
Apabila memilih strategi perang bertahan, bukan offensive, menyerang. Siapa perwira tinggi yang
memberi masukan tentang Ardennes
Offensive agar dilakukan habis-habisan hingga sang Fuhrer memilih strategi
itu, mungkin perwira-perwira tinggi Jerman yang selamat atau yang diam-diam
mendukung plot percobaan kudeta tersebut.
Atau, Battle of The
Bulge membuktikan bahwa Hitler sebetulnya bukanlah sosok yang andal dalam
strategi perang. Karena bakat sebenarnya adalah seorang seniman, pelukis meski
karya-karyanya dinilai berkualitas medioker (?)
Selebihnya,
selama perang besar berkobar, maka Jerman patut
disegani karena teknologi perang dan kedisiplinan. Pasukan sekutu menang karena
jumlah besar dan tekad kuat. In the end, allied won the war although they lost many
battles.
Perang Dingin, Cold War, demikian sebutan perang itu.
Mengambil
Alih Teknologi Jerman
Pasca Perang Dunia ke-2 yang berakhir dengan kekuaatan poros
Jerman, Jepang dan Italia menjadi pecundang, perubahan atas dunia pun perlahan
terjadi. Dunia menjadi lebih tenang dan damai, meski terjadi peperangan akibat
beberapa negara jajahan memerdekakan diri seperti Republik Indonesia atas
kerajaan Belanda.
Tak hanya itu, berakhirnya Perang Dunia ke-2 lantas membawa
dunia kembali waspada akan ancaman perang baru, yang diprediksi bakal
mengakibatkan kerusakan lebih parah sebagai konsekuensi berlanjutnya penelitian
tentang kedahsyatan bom atom yang dijatuhkan di dua kota di kawasan Jepang,
yakni Hiroshima dan Nagasaki menjelang akhir perang besar abad ke-20 ini.
Perang baru yang dikhawatirkan oleh dunia bakal membawa
kesengsaraan lebih luas, hingga saat ini belum meletus, melainkan menjadi suatu
peperangan tak kasatmata, minim pemberitaan tentang perseteruan antara kekuatan
blok Timur yang komunis, melawan blok
barat yang kapitalis. Perang Dingin, Cold
War, demikian sebutan perang itu.
Selama Cold War,
dua negara adidaya yang berseteru baik Uni Sovyet mewakili kubu blok komunis
dengan Amerika Serikat mewakili kubu kapitalis, selalu bersaing dalam
pengembangan senjata perang.
Semua penelitian dan pengembangan sejata dua negara yang
memiliki predikat Super Power, Adi Daya tersebut, justru berawal dari
penelaahan detail tentang seluk beluk senjata Jerman selama PD II, seperti;
Pistol Luger Parabellum, Walter PP (PolizePistole), MP-40 (MaschinenPistole), senapan Karabiner
98K, Gewehr 43 Mauser, Strumgewehr44
juga penampilan granat tangan khas Jerman StielhandGranate
dan pelontar api Flammenwerfer.
Semua jenis senjata tangguh buatan Jerman selama Perang Dunia
ke-2 pun pernak pernik aksesorinya seperti seragam rancangan desainer terkemuka
Hugo, ironisnya justru dipelajari pengembangannya oleh pihak sekutu pasca
perang, sebagai pemenang.
Sebagai contoh, diakui atau tidak, senapan otomatis buatan
Rusia yang fenomenal hingga kini yakni; AK-47, adalah senjata serbu yang
terinspirasi oleh Strumgewher44,
buatan Jerman selama berkobar PD II.
Satu lagi teknologi Jerman yang ditiru dan dikembangkan
hingga sekarang adalah pelindung kepala era Perang Dunia II, Stahlhelm.
Bahkan, pada awal perang teluk tahun 1991, bentuk Stahlhelm pun dinobatkan menjadi acuan
bentuk helm angkatan perang Amerika. Bedanya, tali kulit pengkait Stahlhelm diikatkan di bagian bawah
dagu, bagian atas leher, yang merupakan area kulit dan otot sensitif, tanpa
tulang.
Sementara helm Spectra
hasil riset perangkat militer tahun 1990 yang meniru Stahlhelm, yang kemudian menjadi standar pasukan perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa, PBB, hingga sekarang, tali pengkaitnya dipasang tepat di dagu yang tak sensitif.
Mungkin, karena harus disiplin menahan rasa risih di area
leher yang dialami oleh setiap tentara Wehrmacht Jerman saat kenakan Stahlhelm,
menjadikan mereka kurang fokus saat berlaga dalam setiap kobaran pertempuran
dalam PD II.
Sementara baju seragam berkualitas Hugo yang dikenakan, juga
kualitas alat-alat perang Jerman yang presisi, akurat dan andal, menjadi kurang
optimal gegara menahan rasa risih pengkait Stahlhelm
yang mengikat bagian sensitif area antara dagu dan leher setiap prajurit Wehrmacht.
Menjadi pembelajaran bagi industri peralatan perang, bahwa
mengabaikan faktor ergonomi perangkat pelindung diri yang melekat di badan,
bisa berdampak sebagai penyumbang kekalahan perang.
Perang besar pun usai, namun ilmu dan teknologi tetap berkembang. Manusia sedunia pun menuai hikmah berupaya melupakan kepiluan perang, berganti menggali ilmu dan teknologi bagi kemanusiaan.
…hingga memberikan keteladanan yang demikian sampai beberapa generasi sejak akhir PD II
Hikmah
Akhir PD II Bagi Indonesia
Dalam sejarahnya pun, tentara Jerman pelarian setelah kalah
pada awal Mei 1945, juga menyumbang jalan sejarah bangsa Indonesia menuju
kemerdekaannya.
Mulai dari hal kecil ketika tim perumus naskah proklamasi
kebingungan mencari mesin ketik, sementara mesin ketik yang tersedia di rumah
Laksamana Maeda ternyata berhuruf kanji, maka mesin ketik berhuruf
internasional pun dipinjami oleh angkatan laut Jerman, Kriegmarine, yang tengah melepas jangkar di pelabuhanTanjung Priok,yang
waktu itu menjadi wilayah yang dinyatakan status
quo, setelah Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu.
Hingga, beberapa anggota awak kapal selam U-219 yang
memutuskan bergabung dengan gerilyawan Indonesia. Juga ada yang menjadi pelatih
strategi berperang di akademi militer Jogjakarta sebelum agresi militer Belanda
1947.
Termasuk pula kunjungan seorang mantan menteri ekonomi Nazi
Jerman yang diundang oleh pemerintah baru Republik Indonesia, guna berbagi dan
memperkaya pengetahuan ekonomi kerakyatan bagi para pemimpin negara yang masih
berusia sangat belia, pada dekade awal kemerdekaannya.
Sudah menjadi suratan sejarah bahwa Jerman kalah dalam dua
kali perang besar. Banyak hikmah yang diambil.
Pasca perang, bisa dibayangkan betapa rakyat
Jerman, juga Jepang, begitu bersusah payah membangun citra bahwa mereka tak
sejahat yang tertulis dalam sejarah versi pemenang perang.
Tak gampang berperilaku demikian, bahkan hingga memberikan
keteladanan yang demikian sampai beberapa generasi sejak akhir PD II. Namun, semangat dan kerja keras untuk bangkit dari keterpurukan membuahkan
kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi pada kedua bangsa itu, Jerman dan
Jepang, hingga kini.
Sebagai bangsa yang pernah terbantu kedua negara pecundang perang besar tersebut saat memerdekakan diri, lalu diakui dunia, maka Indonesia bisa memaknai perihal; Bangkit dari Keterpurukan.
![]() |
| Pasukan Ranger Amerika Serikat Bersiap Mendarat di Pantai Omaha Normandia dalam Operasi Overlord (D-Day) Pagi Hari Tanggal 6 Juni 1944. Sumber Foto - www.dday-overlord.com |

Komentar
Posting Komentar